Review Novel : 90 Hari Mencari Suami

06.11


90 Hari Mencari Suami

Penulis                 : Ken Terate
Penyunting         : Raya Fitrah
Penyelaras Aksara : Yuliono/Laura Ariestiyanti
Perancang Sampul : Yogi Fahmi Riandito @yfriandito
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : 2019
Tebal Buku          : 360 Halaman

Blurb
Eli panik saat resmi berusia 30 tahun. Mimpi-mimpinya tentang sukses sebelum “30 tahun” kandas seketika karena dia tak hanya belum menikah, tetapi juga tidak punya pacar sama sekali. Kariernya? Sama karamnya dengan kapal Titanic. Dia masih menjadi budak artis di Glow Event Company dan sadar tak bakal pernah naik pangkat menjadi artis itu sendiri.
Kepanikannya berlipat-lipat saat adik perempuannya, Lisa, akan segera menikah. Waduh! Dalam budaya Jawa ada mitos mengerikan; jika kamu didahului menikah oleh adikmu, kamu bakal jadi jomlo. Selamanya.
Eli tak tahu apakah dia ingin menikah dan membangun keluarga. Tetapi, dia yakin tak ingin menua sendiri. Masalahnya, jika tak mau jadi lajang abadi, dia harus menemukan suami dalam waktu kurang dari 90 hari!
Kayak masih belum cukup, Eli dipecat dari pekerjaannya! Adakah yang lebih mengerikan dibanding berusia 30 tahun dan nggak punya pekerjaan?
Ada!
Berusia 30, jobless, jones alias jomlo ngenes, dan terancam jadi perawan tua.
***


“Ironis banget ya, pada usia tiga puluh tahun, aku tak hanya menyadari bahwa mimpi-mimpiku dahulu begitu menggelikan. Namun, juga mimpi itu bagaimanapun menggelikannya sudah resmi gagal teraih. Karena aku sudah tiga puluh tahun!” -hlmn. 12

90 Hari Mencari Suami adalah novel debut Ken Terate di lini Metropop GPU. Sebelumnya Ken Terate banyak menerbitkan novel lini teenlit yaitu Jurnal Jo Series, Dark Love, Minoel dan beberapa buku lainnya serta menjadi salah satu penulis novela Cerita Mamah Muda. Dengan judul dan blurb yang menarik membuatku excited membacanya. Akhirnya, dapat kesempatan ikutan Baca Bareng Minjul lewat Gramedia Digital.

Sebagai novel debut, novel ini termasuk oke. Ide ceritanya khas Metropop banget, menampilkan kisah wanita single yang tinggal di ibu kota, suka duka menjadi pekerjaan serta kegalauan tokoh di usia yang dewasa tapi tidak cukup beruntung dalam hal asmara. Novel ini juga menampilkan anggapan atau kepercayaan pada masyarakat tentang dilangkahi yang katanya akan membuat susah jodoh. Konfliknya ternyata tidak hanya seputar masalah asmara Eli saja, tapi lebih kompleks dari itu. Misalnya aja konflik di pekerjaan dengan atasannya, juga suka dukanya menangani sebuah event. Belum lagi, masalah yang menimpa kedua sahabat Eli, Sandra dan Rosa.

Gaya cerita yang lincah dan kocak membuat novel ini makin seru. Meskipun gaya ceritanya masih agak kaku, tapi aku masih nyaman membacanya. Alurnya memang agak lambat, kurang greget  awalnya tapi makin ke belakang aku makin penasaran dengan misi Eli mencari suami. Penggunaan POV 1 versi Eli, membuat aku merasa dekat dengannya. Kegalauan Eli pada usianya ke-30 sangat beralasan, aku bisa memahami perasaannya. Walaupun usia kami terpaut cukup jauh hehe..

Bicara soal tokoh utamanya, sosok Eli menyenangkan dan menarik, nggak susah sebenarnya untuk menarik perhatian cowok. Dia punya prinsip tentang hidupnya. Scene yang paling suka, kalo udah Trio Macan ini ngumpul, selalu heboh dan kompak meskipun mereka memiliki berbagai pandangan yang berbeda. Moment sedih senengnya mereka, bikin aku pengin juga punya persahabatan yang langgeng kayak mereka.

Selain Eli dan sahabat-sahabatnya, Sandra dan Rosa. Ada cukup banyak tokoh yang dihadirkan tapi punya peran masing-masing. Salah dua yang favorit buatku adalah Dimi, teman masa kecil Eli. Orangnya sederhana, praktis dan bijak banget. Satu lagi Tristan, sosok pekerja keras dan jadi idamanku banget *ditowel Mbak Eli*

Bicara tentang misi Eli, sebenarnya strategi pencarian Eli tidak bisa dibilang gagal. Eli banyak bertemu yang potensial. Tapi kadang banyak hal terjadi diluar dugaan kita kan? Boleh banget punya target, tapi jangan terlalu keras pada dirimu. Tentunya kita juga harus terus berdoa, berusaha dan lebih peka. Kalo kata Dimi sih, kalau bukan jodoh memang mau diapakan? Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik pada waktu yang lebih baik pula.

“Kadang-kadang, kita mencari terlalu jauh. Kita sibuk kesana kemari, padahal apa yang kita cari sebenarnya sangat dekat. Mungkin kamu perlu santai sejenak melihat sekelilingmu. Siapa tahu kamu menemukan pasanganmu di situ.” –hlmn 193



Exclusive First Chapter : Kenangan Hujan

04.26


KENANGAN HUJAN



Penulis : Dy Lunaly
Penyunting : Falcon Publishing
Ilustrasi Sampul : Cl Nov
Penata Letak : @abdul.m
Penerbit : Falcon Publishing
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-602-6714-58-9


Sinopsis
Kenangan Hujan bercerita tentang perjalanan memori Akasha, seorang dokter anastesi yang belum pernah jatuh cinta. Dia bertemu dengan Raini, gadis manis yang sederhana namun memesona. Akasha sangat tertutup dan pasif sedang Raini sangat ceria dan mudah berteman. Tapi, apa mereka bisa bersatu jika Akasha hanya mampu memandang gadis pujaannya dari jauh.
***

Kenangan Hujan/ke.nang.an.hu.jan/Sesuatu yang membekas dalam ingatan hadir kembali saat titik-titik hujan berjatuhan

Sejak bulan Oktober lalu, teaser novel ini seliweran di timeline. Udah intip-intip beberapa teasernya di Instagram kak Dy dan Falcon Publishing, dan tertarik. Akhirnya aku nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi salah satu pembaca 30 halaman pertama novel Kenangan Hujan. Terima kasih atas kesempatannya, Kak Dy. Well.. Aku suka banget sama novel-novel beliau. Novel ini adalah novel beliau yang ke-11.

Covernya simpel dan cantik. Kental dengan nuansa hujan. Ilustrasi sosok laki-laki dan perempuan serta payung kuning yang punya peran penting buat kisah ini. Beberapa bab yang dibagikan, pembaca diajak berkenalan dengan Akasha dan Raini. Dua orang sosok yang bertolak belakang. Akasha yang terlalu serius dan pasif, sedangkan Raini sosok yang ceria dan menyenangkan. Akasha melihat sosok ‘peri’ ketika hujan. ‘Peri’ yang sangat menarik perhatiannya. Meski langsung menghilang sebelum Akasha sempat menemuinya dari dekat. Sekian waktu berlalu, Akasha kembali bertemu dengan gadis itu. Mereka bertemu, saling mengamati dari jauh.

Seperti biasa gaya ceritanya Kak Dy mengalir, sangat enak dibaca. Perkenalan beberapa bab awal sudah cukup mendapatkan gambaran cerita, dan karakter tokoh utamanya. Sesuai judulnya, hujan dan kenangan sangat mendukung cerita. Hujan dan kenangan adalah kombinasi yang pas. Ngasi efek manis-sendu nostalgic gitu deh.

Kesan yang aku rasakan adalah kisah mereka menarik. Setting tempat dan profesi Akasha yang pernah aku lihat dan alami, membuat aku merasa dekat dengan cerita ini. Pertemuan mereka sederhana tapi berkesan. Meski prosesnya cukup lama, tapi diceritakan dengan cepat. Sebenarnya aku merasa geregetan juga.. Segitu lamanya looo.. Tapi ya mungkin segalanya tentang waktu yaa. Akan ada satu moment yang tepat untuk sesuatu yang hebat. Selain itu, aku juga beneran frustasi sama tingkahnya Akasha. Ribet banget anaknya wkwk..

Well.. Ini ceritanya benar-benar awal banget sih. Belum tahu arah konfliknya kemana. Tapi udah cukup menimbulkan beberapa tanda tanya, terutama tentang kenangan-kenangan. Bagi yang penasaran juga, boleh gih segera jemput Kenangan Hujan. Kontak kak @dylunaly @falconpublishing

 “Terkadang aku berpikir mungkin saat itu Allah tidak mengizinkan kita untuk berkenalan karena saat itu aku belum cukup siap untuk menjadikanmu bagian dari hidupku.”-hlmn. 8



Review Novel : Me Time

06.22


Cerita Mamah Muda : Me Time

Penulis                 : Lea Agustina, Ken Terate, Ruwi Meita, Mia Arsjad, Donna Widjajanto
Penyunting         : Donna Widjajanto
Penyelaras Aksara: Dwi Ratih Ramadhany
Perancang Sampul: Orkha Creative
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : 2018
Tebal Buku          : 272 halaman
ISBN                      : 9786020387413

Sinopsis
Anak yang menangis dan bertengkar satu sama lain. Suami yang cuek. Cucian baju dan piring yang menumpuk. Lantai rumah yang lengket karena belum dipel. Belum lagi pekerjaan demi sesuap berlian yang juga meminta perhatian.
Dilanda berbagai beban itu, apa lagi yang paling dibutukan para mama muda selain me time? Sejenak rehat dari hiruk pikuk rumah tangga dan kehidupan.
Namun, apakah me time dapat diperoleh dengan mudah? Bagaimana kalau me time malah menggiring mama muda kepada kepanikan baru, eksplorasi jati diri, kenangan masa lalu, jodoh kedua atau malah melontarkannya ke masa depan?
Nikmati kisah-kisah me time yang dirangkai lima pengarang yang juga mama muda dalam antologi ini.

“Setiap orang butuh sendiri. Kupikir itu tidak egois. Bukankah kita harus tetap menjaga kewarasan kita?”-halaman 142.
Kalau sudah menikah apalagi punya anak, Me Time bagi wanita jadi hal yang langka. Novel ini berisikan lima kisah mamah muda yang ditulis oleh lima orang penulis kenamaan. Kisah mereka pun bermacam-macam. Seperti yang dituliskan dalam sinopsis, ada yang menjadi istri, ibu bahkan ada juga yang bekerja. Gimana kisah-kisah mereka? Yuk intip reviewnya!

1.    Save The Last Dance – Lea Agustina
Bercerita tentang kesibukan Maya, sebagai ibu rumah tangga dan juga ibu bagi tiga orang balita. Setelah menikah, ia fokus mengurus keluarganya dan melupakan impiannya sebagai penari. Saat keinginan Me Time dan kesempatannya datang, tiba-tiba ia keadaannya berbeda. Maya berhasil mewujudkan mimpinya, meskipun segalanya terasa aneh.
Kisah Me Time-nya Maya ini seru banget. Dengan menggunakan POV3, pembaca diajak mengingat kembali masa muda Maya saat masih menari. Kisah pertemuannya dengan Reno, suaminya yang sangat unik. Ada unsur-unsur fantasinya, perpindahan cerita juga sangat mulus sehingga aku ikutan tercengang saat mendapati keadaan berubah. Bahkan sampai akhir cerita, masih menyisakan tanda tanya. Kok bisa gitu ya, gimana ceritanya?

2.    Setelah Fio Hadir –Ken Terate
Kisah ini tentang Asti, ibu dari bayi berusia 10 bulan. Novella ini menceritakan kisah Asti-Edo yang berjuang memiliki buah hati. Asti bahkan harus merelakan resign dari pekerjaannya demi bisa fokus melakukan program kehamilan. Bahkan hingga Fio hadir, segalanya belum berhenti. Justru baru dimulai. Perjuangannya menjadi seorang ibu muda yang kadang juga sering repot dan kewalahan mengurus bayi.
Novella ini dituliskan dengan alur maju mundur dengan POV 1. Meskipun belum pernah mengalami, aku bisa memahami apa yang dirasakan oleh Asti. Berbagai emosi yang dia rasakan dari sebelum hamil, hingga melahirkan dan membesarkan Fio tersampaikan padaku. Perjuangannya sangat luar biasa. Semua ibu adalah orang yang hebat. Tapi, keberhasilan itu juga tidak terlepas dari dukungan orang disekitar seperti suami, orang tua, mertua dan sebagainya. Kadang kita merasa idealis tentang anak, tapi kita juga harus realistis. Menjadi orang tua harus tetap have fun.

3.    The Singing Coffin – Ruwi Meita
Bercerita tentang Diani, seorang single mom dari anak dengan Anthophobia. Yang juga mengelola toko bunga. Berbagai trauma berkenaan dengan bunga dan juga peti mati. Belum lagi kemampuan istimewa yang dimiliki Diani, kadang ia masih suka terbayang-bayang dengan kenangan tersebut. Diani kemudian bertemu dengan seseorang yang punya pengalaman serupa dengannya, bahkan menawarkan me time dengan cara berbeda.
Dengan alur maju mundur dengan POV3, cerita ini diramu apik khas Ruwi Meita. Di tangan beliau, kisah seorang mama muda pun bisa terasa beraura gelap dan terasa mencekam. Endingnya pas, manis dan bikin penasaran!

4.    Pangeran Untuk Nina – Mia Arsjad
Kisah ini tentang Nana, working mom, ibu tunggal bagi Nina dan juga beberapa ekor kucing. Kesibukan dan kekacauan yang terjadi di rumah, membuat Yama –kekasihnya mengusulkan me time untuk Nana. Yama menyanggupi akan menggantikan peran Nana selama ia berliburan. Berhasilkah ia menikmati me time-nya?
Kisah Nana ini manis banget. Relate bagi kita semua, bukan hanya para mamah. Kalo lagi mumet sama kerjaan, sama ‘kekacauan’ di rumah, opsi liburan emang paling tepat sih. Sama Nana, aku belajar untuk lebih woles dan mempercayai orang lain karena memang nggak semua hal bisa kita handle sendiri. Jadi lebih spontan juga hihi.. Sosok Yama juga pengertia banget. Sepakat deh sama usul Wina 

5.    Tiket – Donna Widjajanto
Berawal dari ketinggalan pesawat, Illi  yang juga ibu dari dua orang anak akhirnya dapat menikmati me time-nya. Meskipun tidak disengaja, moment ini menjadi pengingat bagi Illi untuk lebih memikirkan dirinya sendiri. Terlepas dari perannya sebagai ibu, tapi juga menemukan jati diri dan apa yang diinginkannya.
Baca kisah ini bikin mewek, segitunya ya jadi ibu? Meskipun sempat mengalami krisis identitas, beruntunglah Illi tetap mendapat dukungan dari suami dan orang tuanya. Dengan POV 3, dan alur maju mundur kita diajak untuk bernostalgia pada awal pernikahan Illi dan Carlo. Keputusan mereka untuk menikah muda, mengambil resiko. Salut deh pokoknya dengan Illi.
Kisah mamah muda ini menginspirasi kita untuk tetap menikmati hidup dengan cara kita sendiri, sesibuk apapun kita. Me time sangat diperlukan untuk menyegarkan diri dari segala rutinitas, tapi juga menemukan hal baru yang menarik dan membuka kesempatan serta pengalaman baru. Rekomended bagi para mamah muda dan juga bagi keluarga, agar bisa mendukung me time bagi para mamah. Karena mengutip kata Carlo, suami Illi, bahwa kebahagiaan para ibu adalah fondasi bagi rumah dan keluarga. Selamat membaca!

“Menurutku, seharusnya me time itu tidak hanya digunakan untuk istirahat dan refreshing, tapi juga harus bisa digunakan untuk mengembangkan diri.” –halaman 267

Review Novel : Crooked House (Buku Catatan Josephine)

15.59


Crooked House (Buku Catatan Josephine)

Penulis             : Agatha Christie
Alih Bahasa     : Mareta
Sampul            : Staven Andersen
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Terbit              : Cetakan kesebelas, Juli 2017
Tebal Buku      : 272 Halaman


Sinopsis

Meski tinggal di rumah besar yang reyot, keluarga Leonides tampak bahagia. Tetapi semua itu berakhir ketika sang kakek, Aristide, tewas dibunuh.
Kecurigaan tertuju pada janda Aristide, yang usianya lima puluh tahun lebih muda, namun sebelum misteri terpecahkan, seorang anggota keluarga lagi terbunuh.
Charles Hayward, bujangan Inggris yang jatuh cinta pada Sophia Leonides, cucu Aristide, membantu mengungkapkan siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan melalui sebuah buku harian.
***

“Setiap orang di rumah ini punya kesempatan dan cara. Yang kuperlukan adalah motif.” –halaman 67
Tidak heran jika buku ini menjadi salah satu buku favorit dan buku terbaik bagi penulis. Banyak yang menyukai buku ini, karena kisah keluarga Leonides memang seseru itu! Kasus yang terjadi di keluarga Leonides ini diceritakan dari POV 1 versi Charles Hayward. Aku sebagai pembaca, seolah berperan sebagai Charles. Sosok ‘detektif baru’ yang berusaha memecahkan kasus dengan mendekati dan menemukan motif dibalik pembunuhan tersebut.

Keluarga Leonides ini sangat rumit. Agatha Christie kembali menghadirkan keterlibatan keluarga sebagai orang terdekat, sekaligus paling berbahaya dalam kasusnya. Setiap tokoh memiliki pandangan terhadap sosok Aristide, yang memungkinkan menjadi motif untuk merenggut nyawanya. Pengembangan karakternya sangat detail. Banyak karakter yang bersikap mengecoh, jadi agak sulit bagiku menyelami motif dan mengumpulkan bukti-bukti dengan menginterogasi semua anggota keluarga Leonides. Semuanya punya porsi yang pas, dan berpotensi untuk menjadi tersangka. Melihat dan mendengar pembelaan-pembelaan mereka membuat dugaanku berpindah-pindah.

Kisah ini bisa dikatakan ‘tanpa detektif’, hanya bersumber pada sebuah catatan. Tapi mampu mengungkap segalanya. Twistnya memang tidak terduga. Kaget banget saat tahu siapa korban selanjutnya. Analisa yang diungkapkan di akhir buku, benar-benar mencengangkan. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa “orang yang tepat” adalah orang yang justru tidak pernah aku curigai. Ia cerdas, motifnya pun sangat sederhana, tapi mengerikan!

Kisah thriller-detektif ini tentunya diberi sedikit bumbu romansa antara Sophia dan Charles, sehingga tidak melulu pusing dan tegang saat membaca. Endingnya menurutku terburu-buru. Yah, tapi aku sangat puas setelah menuntaskan misteri keluarga Leonides. Lega rasanya. Mengutip kata Sophia bahwa yang terbaik adalah yang telah terjadi.

Btw.. Covernya keren, simpel dan sangat menggambarkan cerita novel ini. Terjemahannya juga baik dan enak dibaca.  Novel ini adalah novel yang berkesan, salah satu karya Agatha Christie favoritku.

“Karena beginilah mimpi buruk. Berjalan diantara orang-orang yang kita kenal, memandangi wajah mereka, dan tiba-tiba saja wajah itu berubah –bukan orang yang kita kenal lagi –wajah seorang asing yang kejam...” –halaman 258

Review Novel : Purple Prose

17.09

Purple Prose

Penulis : Suarcani
Penyunting : Midya N. Santi
Penyelaras Aksara : Mery Riansyah
Perancang Sampul : Orkha Creative
Tebal buku : 304 halaman
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Blurb :

Tujuh tahun lalu kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Balu datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.


Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonyolannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.

Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.

***

Sejak baca The Stardust Catcher, aku langsung tertarik membaca semua karya Mbak Suarcani. Kali ini novel terbarunya, Purple Prose. Sebenarnya istilah Purple Prose ini masih asing bagiku. Awalnya aku bingung dengan kaitannya dengan novel ini, sampai akhirnya dijelaskan..

"Prosa ungu itu semacam kalimat berlebih yang sering muncul di sebuah buku, biasanya sih novel. Kalimat-kalimat yang boros kata, bertele-tele, rumit dan seakan menarik perhatian untuk dirinya sendiri." - hlmn. 162

"Itu juga terjadi pada kita, Ya. Kamu sama seperti aku. Sama-sama terjebak dalam kesalahan masa lalu. Jika disamakan dengan buku, berlembar-lembar kisah kita hanya dipenuhi oleh purple prose, oleh penggambaran rasa sakit dan sesal atas peristiwa itu. Padahal dalam lembar-lembar terbuang itu kita bisa maju selangkah, atau setidaknya berusaha untuk move on. Tapi kenyataannya kita nggak bisa." -hlmn 163


Covernya keren! Bernuansa ungu, yang sendu, menampilkan sosok Roya dan kebiasaannya menatap asap dupa sebagai healing terapi. Melihatnya aja udah seperti ikut terbawa. Purple Prose tetap khas Suarcani dengan jalinan kisah yang rapi, serta setting dan nuansa budaya Bali yang kuat.

"Sejujurnya aku sama sekali tidak pernah lupa hari itu, tidak pernah lupa pada kesalahanku, tapi aku tidak ingin penyesalan itu membuatku untuk hidup lebih baik" -hlmn.164


Purple Prose punya formula yg serupa dengan novel metropop beliau sebelumnya, Rule of Third, dimana tokohnya mengalami kejadian yang serupa, lalu bertemu dan saling mendukung. Purple Prose mengangkat tentang kehidupan anak muda yang bebas, terbelenggu oleh lingkaran setan yang akhirnya menyebabkan penyesalan dan dihantui oleh rasa bersalah di masa lalu.

Novel punya nuansa lebih dark dengan plot twist dan ending yang tidak terduga. Aku puas karena penulis mengungkapkan clue pelan-pelan, sambil terus membangun chemistry antara Galih-Roya. 

Galih sosok yang menyenangkan, usil, menarik sekaligus misterius. Sedangkan Roya cewek manis yang sering gugup, ceroboh, juga terkungkung dengan rasa bersalah di masa lalu. Berkenalan dengan mereka, membuatku ikut tersenyum bahagia, sekaligus getir. Mereka saling mendukung dan melindungi. Namun permainan karma membuat mereka tidak berdaya. 

Meskipun menurutku masih ada beberapa hal yang janggal dan seolah-olah disengaja. Overall, aku puas dengan Purple Prose. Permainan konflik dan emosinya mantap.

Bersama Galih dan Roya, pembaca diajak untuk belajar memaafkan, kembali melanjutkan hidup lebih baik dan menyelesaikan masa lalu dengan jujur dan bertanggung jawab.

"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walau tak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan menagih pertanggungjawaban" -hlmn 289

Blogtour : Regretful

07.03

REGRETFUL

Penulis : Asyifashi
Penyunting : Herliana Isdianti
Penyelaras Aksara : Pricillia A.W
Desain Sampul :@riannon_unicorn
Penata Sampul : F. Aristaputra
Penerbit : Inari ( Imprint Penerbit Haru)
Tebal buku : 356 halaman
Tahun terbit : 2018

Blurb :
"Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih cepat.."

Tawa Deeka itu menular. Kalian tidak mungkin bisa menahan tawa juga. Begitupun Nara, si cewek pintar penyuka kucing. Dunianya mendadak penuh tawa, sejak Deeka masuk ke dalam hidupnya.

Nara berani menghadapi trauma masa lalunya, hingga kemudian mengejar cita-citanya lagi sebagai penulis. Diam-diam Nara mulai melihat Deeka dengan cara berbeda.

Yang tidak Nara tahu, ada sebuah rahasia pahit yang tersembunyi di balik senyum hangat cowok itu. Rahasia pahit yang awalnya tak mampu Deeka ungkapkan, lantaran cowok itu tak ingin Nara sedih karenanya.

Tapi... serapat apapun suatu hal disembunyikan, pasti akan ketahuan juga, kan?
***

"Mengembuskan napas itu sama aja kayak melepas seribu kebahagiaan. Sayang banget, kan?" -hlmn 117

Duh, abis baca novel ini. Nggak bisa kalo nggak mengembuskan napas berat. Nyeseknya masih terasaa huhu..

Pertama kali nih baca novelnya kak Cipa. Mungkin ada yang udah mengenal beliau lewat wattpad? Novel Regretful ini diterbitkan oleh penerbit Inari.

Sejak baca prolog, aku udah tertarik. Novel ini punya premis menarik. Novel remaja bertema sick lit ini nggak cuma bikin senyum-senyum tapi juga menguras air mata.

Dengan POV3, novel ini diceritakan secara flashback. Nara dan Deeka pertama kali bertemu di SMA. Nara bukan tipikal cewek kebanyakan, dia tipikal cewek yang bisa dikatakan 'biasa' aja. Sedangkan Deeka, termasuk cowok populer di sekolah. Pertemuan dan perkenalan mereka juga bisa dikatakan tidak manis sama sekali. Namun lama kelamaan mereka bisa dekat dan saling mengenal satu sama lain.

Meskipun menurutku alurnya agak lambat, tapi aku menikmati cara penulis membangun chemistry antar tokoh menjadi kuat. Kehadiran tokoh pendukung juga sangat terlihat melengkapi cerita. Karakter tokohnya juga dibangun dengan baik.

Tokoh favoritku adalah Deeka. Nggak susah buat jatuh cinta sama cowok tipikal dia. Aku suka dengan semangatnya. Setelah berbagai hal yang dialaminya, dia tetap optimis dan terlihat ceria dan bahagia. Beruntung dia memiliki sahabat seperti Roni dan Nara yang selalu peduli padanya. Jangan lupa dengan keluarganya, mereka memang support system terbail Deeka. Suka deh dengan brotherhood Deeka dengan Indra dan Andra.

Novel ini menurutku termasuk dalam paket lengkap. Nggak hanya cerita tentang cinta, tapi juga arti persahabatan dan juga keluarga. Riset yang dilakukan juga sangat matang. Covernya kelam namun sangat pas dengan ceritanya. Aku masih menemukan beberapa kesalahan penulisan, tapi tidak terlalu mengganggu. Novel ini bisa dibaca oleh pembaca usia 15 tahun keatas. 

Saat berada di titik terendah sekalipun, jangan pernah patah semangat. Jangan hilang harapan, jangan pernah berhenti meraih mimpi. Jangan berhenti untuk menebarkan kebahagiaan. Meski kadang, bahagia mungkin seperti pelangi yang tidak bisa bertahan lama.

"Aku beruntung karena memoriku terisi dengan banyak sekali kenangan indah bersamamu. Walau sisanya memang sedikit menyakitkan, tapi aku tetap merasa beruntung. Terima kasih." -halaman 322

Blogtour : Song For Alice - Winner Announcement

23.13


Blogtour : Song For Alice

Winner Announcement



Holaaa.. Ada yang udah nungguin pengumuman pemenang giveaway di blogtour novel Song For Alice? Naaah.. di postingan ini kamu akan tahu siapa yang beruntung mendapatkan 1 eksemplar Novel Song For Alice dari Twigora. Tapi sebelum mengumumkan pemenangnya, aku mau mengucapkan terima kasih banget untuk semua yang sudah berpartisipasi di blogtour ini. Semuanya punya sesuatu hal yang spesial yang mengingatkan dengan seseorang yang disayang. Jujur, aku juga pernah mengalami hal-hal serupa dengan cerita teman-teman. Rasanya ada yang bikin rindu, bikin nangis dan bikin bahagia juga. Pengin deh menangin beberapa orang tapi sayangnya aku harus milih satu orang.
Oke deh langsung aja. Congratulation for…..

Delasyahma Amari
Twitter @syahmaamari_

Yeeay! Selamat kamu dapat novel Song For Alice dari Penerbit Twigora. Tolong segera konfirmasi data diri dengan mengirimkan email ke rinspiration95@gmail.com dengan subyek : “GA Song For Alice” dengan menyertakan nama lengkap, akun sosmed (twitter/IG), alamat lengkap serta no HP yang bisa dihubungi. Setelah hadiahnya diterima, harap memberikan konfirmasi kepada kami melalui sosial media. Kalau boleh minta review atau kesan-kesan saat membaca juga ya!

Ketinggalan ikut blogtour ini? Kamu bisa baca Tanya Penulis dan Review Novel Song For Alice. Aku juga mau ngucapin terima kasih juga buat Penerbit Twigora yang sudah mengajak aku bekerja sama di blogtour ini. Host blogtour yang lain, senang sekali bisa ikut berpartisipasi. Mohon maaf masih banyak kekurangan, semoga berkenan ya! Saran dan kritikmu sangat aku harapkan. Blogtour masih berlangsung lho, silahkan cek ke blog host lainnya.

Jangan lupa terus pantengin akun sosmedku, follow twitter @rinicipta dan IG @rinspirations. Follow juga blog rinspiration95.blogspot.com via GFC atau email. See you on another blogtour and giveaway! ^^