Review Novel : A Very Yuppy Wedding

01.25

A Very Yuppy Wedding

Penulis : Ika Natassa
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
Tahun Terbit : 2007 (Cetakan kesembilan Maret 2013)




It feels like it’s my Blackberry whp’s enganged with his Blackberry. Kalau kesibukan kami tetap seperti ini setelah menikah, bisa dipastikan we’ll be having technological intercourse a lot more than sexual intercourse.
-Andrea in A Very Yuppy Wedding

INGREDIENTS :
The life of a business banker is 24/7 dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti tangga karirt di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she ears them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So sheshould be smiling, right?

Tidak disaat dia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yan mencekik dan ancaman denda 500 juta jika iamelanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada yag bisa memaksanya tersenyum disaat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.
***

Mau posting review novel A Very Yuppy Wedding nih. Akhirnya kesampaian juga pinjem novel debutnya Ika Natassa di I-Jak dan udah selesai dibaca kemarin, bertepatan sama pernikahan Kahiyang-Bobby.  Jadi disajikan selagi hangat hehe.. Kenapa jadi Kahiyang-Bobby? Ya, perbedaan suku bangsa membuat aku mengingat pasangan Andrea-Adjie. Moment pernikahan Kahiyang dan Bobby ini persis banget sama yang akan dijalani oleh Andrea Natasha Siregar dan Adjie Soerjosoemarno. Bedanya, Andrea  yang berasal dari Medan, sedangkan Adjie yang keturunan Jawa. Pasangan dari beda suku bangsa ini diceritakan tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, lengkap dengan berbagai drama mulai dari pekerjaan calon pengantin, pilihan dan tuntutan dari keluarga, godaan dari orang-orang yang  berada di sekeliling keduanya bahkan konflik dari si pasangan calon pengantin itu sendiri!

“Pernikahan itu bukan cuma buat menghalalkan hubungan seks, Dre, tapi untuk menyatukan pandangan dan pemikiran, serta saling melengkapi.” –halaman 158

Sebelumnya, aku sudah membaca tiga novel Ika Natassa yaitu Antologi Rasa, Critical Eleven dan The Architecture of Love. Seperti novel Ika Natassa yang lainnya, novel ini menghadirkan garis besar yang serupa. Tokoh-tokohnya mengagumkan, punya background karier yang sukses, pasangan yang rupawan dan mapan serta gaya hidup serba mewah dengan deretan brand dan tempat nongki kece. Nggak ketinggalan, gaya cerita yang mengalir serta konflik percintaan yang complicated. Di novel A Very Yuppy Wedding ini, sayangnya aku agak kurang menikmati ceritanya. Konfliknya yang muncul serupa dan terasa agak berlebihan. Aku agak nggak sreg sama sikap kedua pasangan ini yang agak childish di usia segitu sih. Tapi syukurnya masih ada yang mau ngalah, walaupun ya jatuhnya jadi agak drama.

Novel ini diceritakan dari POV 1 versi Andrea, jadi pembaca tidak bisa memahami bagaimana versi Adjie. Kesannya Andrea itu jadi sangat cemburuan dan childish. Tapi menurutku, ia juga tidak seegois itu, karena ia juga cukup banyak berkorban dan itu sangat worth it buat hubungannya dengan Adjie. Perempuan yang bersedia melakukan hal itu adalah perempuan yang hebat! Awalnya memang sangat romantis, Andrea dan Adjie itu perfect couple. Memasuki pertengahan buku, aku merasa alurnya jadi agak lambat dan greget lagi menjelang ending. Bapernya khas Ika Natassa banget deh pokoknya. Aku kadang nggak memahami jalan pikirannya Andrea yang kadang agak ekstrem.

Thanks to Tania dan Firman, beruntung banget Andrea dan Adjie punya temen yang super care dan bijak! Meskipun cerewet dan ceplas-ceplos kadang ocehan mereka lebih nusuk sekaligus mencerahkan. Keberadaan mereka menyelamatkan saat-saat rawan menjelang pernikahan Andrea dan Adjie. Pengen banget punya temen yang kayak gini!

“It’s funny how marriage can limit your possibilites, right?”
 –halaman 143

Dalam sebuah hubungan, yang diperlukan tidak hanya rasa cinta, tapi juga kerelaan untuk berbagi dan meredam ego masing-masing. Menyatukan dua kepala dalam ikatan pernikahan memang tidak mudah. Tapi ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang kalah ketika mengalah dalam hubungan, maka saat itulah kita berhasil membuat kebersamaan tidak hanya berharga tapi juga saling membuat bahagia.

“Bagaimana aku bisa tidak mencintai laki-laki yang mengatakan akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia, walaupun itu berarti merelakan aku pergi ke pelukan orang lain?” –Halaman 279

Blogtour : Hitam Putih (Winner Announcement)

03.19

Blogtour : Hitam Putih (Winner Announcement)


Holaaa.. Ada yang udah nungguin pengumuman pemenang giveaway di blogtour novel Hitam Putih? Naaah.. di postingan ini kamu akan tahu siapa yang cerita pengalaman dan atau keinginannya untuk merantau. Tapi sebelum mengumumkan pemenangnya, aku mau mengucapkan terima kasih banget untuk semua yang sudah berpartisipasi di program ini. Semuanya antusias meramaikan program ini dan punya cerita yang menarik tentang merantau.
 Oke deh langsung aja. Congratulations for…..

“Dinan Wiyantika”
Twitter : @dinan_wiyantika

Yeeay! Selamat kamu dapat novel Hitam Putih dari Penerbit Clover. Tolong segera konfirmasi data diri dengan mengirimkan email ke rinspiration95@gmail.com dengan subyek : “GA Hitam Putih” dengan menyertakan nama lengkap, akun sosmed (twitter/IG), alamat lengkap serta no hp yang bisa dihubungi. Setelah hadiahnya diterima, harap memberikan konfirmasi kepada kami melalui twitter atau instagram dengan menyertakan foto hadiahnya dan review atau kesan-kesan saat membaca novel ini.

Buat yang belum beruntung di blogtour ini, jangan patah semangat karena sedang ada blogtour giveaway novel Hitam di blog Kak Pida hingga tanggal 5 November 2017. Ketinggalan ikut blogtour ini? Kamu bisa baca review ku untuk novel Hitam Putih disini.

Aku juga mau ngucapin terima kasih juga buat Penerbit Clover yang sudah mengajak aku bekerja sama di blogtour ini. Host blogtour kece yang lain –kak Luckty dan kak Pida- senang sekali bisa ikut berpartisipasi, semoga berkenan ya. Ditunggu kerjasama-kerjasama selanjutnya. Sukses untuk kita semua!

Jangan lupa terus pantengin akun sosmedku, follow twitter @rinicipta dan IG @rinspirations. Follow juga blog rinspiration95.blogspot.com via GFC atau email, siapa tau ada blogtour dan giveaway menarik lainnya. See you! ^^

Review Novel : Hitam Putih (Blogtour Giveaway)

17.45

HITAM PUTIH

Penulis                         : Andriyana
Editor                          : Vivekananda Gitandjali
Editor Supervisi          :Risma Megawati
Desain Sampul&Grafis:Heru Lesmana
Tahun Terbit                : 2017
Tebal Buku                  : 168 halaman

 

Hidup dan kehidupan di dalamnya benar beragam corak berwarna-warni. Baik itu siang, juga malamnya. Bahwa gelap itu berwarna-warni dan indah selaras tertata apik dan epik. Begitu juga dengan terang. Secara kasatmata pun jelas terlihat ada warna-warni dalam terang.
Akan tetapi saat terangnya ilmu pengetahuan diselewengkan, dibengkokkan tujuannya, maka gelaplah hati.
“Apa yang akan terjadi jika terangnya ilmu pengetahuan dimonopoli oleh manusia-manusia gelap hati”
***

“Jika memandang kehidupan hanya hitam putih, maka akan buta warna -7

Mualim dan Jang, keduanya bersahabat dekat sejak usia mereka masih remaja. Mereka menghabiskan masa remaja dengan belajar, bermain dan mengaji bersama. Mualim dekat dengan Jang karena Bapak Jang biasa mengajar anak-anak mengaji di langgar desa. Meskipun orang tua Mualim bisa dikatakan orang yang berada dan lebih maju dibandingkan dengan penduduk Desa Lembah, tempat tinggal mereka. Namun, tidak ada perasaan angkuh dan perbedaan diantara Mualim dan Jang. Terlebih lagi ketika Syifa, adik Mualim menikah dengan Jang. Hubungan keduanya semakin dekat, layaknya saudara kandung.

Selepas SMA, Mualim memutuskan untuk merantau ke Surabaya untuk berkuliah di bidang jurnalistik, sedangkan Jang masih berkuliah jurusan perikanan di daerah Bogor. Meskipun terpisah, mereka masih saling berhubungan melalui email dan telepon. Melalui hubungan jarak jauh itulah, Mualim bercerita tentang pemahaman-pemahaman ilmu agama yang dipercaya oleh orang-orang baru yang ditemuinya. Siapa yang menyangka bahwa perjalanan itu memulai segala perubahan bagi Mualim dan Jang?

“ Kini aku menyadari, dalam terangnya siang masih ada satu titik gelap. Begitu juga, dalam gelapnya malam masih ada satu titik cahaya. Dan aku juga memberikan ibarat dari hasil termenungku kepada kau, bahwa ternyata begitu berwarna-warninya terang juga gelap” –halaman 33
***

“Bertemu dengan orang lalu sering berkomunikasi dengannya, itu sama saja bertemu dengan pemikirannya.” –halaman 21

Sebelumnya mau mengucapkan terima kasih untuk Penerbit M&C (Penerbit Clover) atas kesempatannya mereview novel ini sekaligus mengadakan giveaway dalam rangka Blogtour Novel #HitamPutih. Baca reviewnya sampai akhir ya, karena akan ada satu eksemplar novel Hitam Putih untuk satu orang pemenang ^^

Novel setebal 168 halaman ini, bercerita tentang kisah yang sederhana tapi penuh dengan makna kehidupan. Tipis tapi sangat padat.  Alurnya cepat, menggunakan alur maju mundur. Tokoh-tokohnya yang muncul terkait satu sama lain. Pembaca diajak untuk berkenalan dengan tokoh-tokohnya yang kebanyakan bercerita menggunakan POV 1. Namun ada juga yang menggunakan POV 3. Meskipun begitu aku cukup nyaman membaca novel ini.

Bagiku, kisah ini terasa sangat dekat. Saat ini, aku sedang ada pada masa yang dialami oleh Mualim. Melanjutkan pendidikan sekaligus merantau, dua hal yang benar-benar baru sekali ini aku alami. Di usia yang dikatakan sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab dengan diri sendiri, rasanya hidup mandiri itu menjadi salah satu tantangan menarik untuk ditaklukkan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ada berbagai pemahaman yang kita dapatkan dari teman-teman yang baru dikenal. Ada yang sesuai, namun ada juga yang sangat berbeda dari yang kita percaya. Lingkungan pergaulan juga akan membawa pengaruh bagi diri kita. Pada akhirnya, semua akan kembali lagi pada diri kita, apakah akan terlena terbawa suasana atau berusaha melawan pengaruhnya?

Meskipun kental dengan nuansa islami, tapi novel ini bisa dinikmati secara universal. Buat kamu yang ingin baca kisah tentang menemukan jawaban dalam pencarian jati diri yang bisa memotivasi, novel ini jadi salah satu yang aku rekomendasikan.

Hitam Putih, sebuah kisah tentang perjalanan menuju pulang. Ingatlah satu hal bahwa sejauh apapun kita pergi, rumah dan segala isinya adalah tempat yang selalu menerima kita kembali, tanpa perduli apa yang pernah terjadi. Selama ada keyakinan dan keinginan, hanya kita dan Tuhan yang mampu menyelamatkan dari segala kemungkinan terburuk dalam hidup.

“Terkadang apa yang kita anggap benar, belum tentulah benar di anggapan orang lain. Meskipun begitu, tetaplah aku harus menghormati mereka yang berbeda anggapan denganku..” -halaman 41


Gimana tertarik juga baca novel ini? Kamu bisa mendapatkannya secara cuma-cuma hanya dengan ikutan giveaway-nya! Jadi cara ikutannya gampang aja
1.      Punya alamat pengiriman di wilayah Indonesia.
2. Follow kami via twitter @rinicipta atau via IG @rinspirations @penerbitclover dan @andriyana.andriyong. Follow blog ini sekalian juga boleh.
3.      Share informasi blogtour giveaway ini dengan hastag #HitamPutih dengan tweet link/repost banner yang ada di akun IG-ku @rinspirations, jangan lupa mention/tag kami sesuai dengan sosial media yang kamu gunakan untuk share. Share-nya boleh sekalian mention temen-temenmu, sesering dan semenarik mungkin. Bebas!
4.   Jawab pertanyaan dengan format nama, akun sosial media (Twitter/IG), email, link share dan jawaban. Pertanyaannya :        
  
Bagi yang sudah pernah merantau, ceritakan suka duka kisah perantauanmu yang paling berkesan dan susah dilupakan!”
atau
“Bagi yang belum pernah merantau, apakah kamu ingin merantau? Kenapa?

5.      Giveaway ini berlangsung dari tanggal 23-29 Oktober 2017 dan diumumkan segera setelah penutupan. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban yang paling menarik, jadi siapkan jawaban terbaikmu yaa! Pemenang akan aku hubungi via sosial media/email.
6.      Good luck!

     Jangan lupa ikuti rangkaian blogtour #HitamPutih di tanggal 16-22 Oktober 2017 di blog kak Luckty GS. dan 30 Oktober-5 November 2017 di blog kak Pida Alandrian



Review Novel : Athena

01.41

ATHENA : EUREKA!

Penulis : Erlin Natawiria
Penerbit         : Gagas Media
Editor : Nico Rosady & Jie Effendie
Proofreader : Patresia Kirnandita
Penata Letak : Landi A. Handwiko
Desain Sampul : Jeffri Fernanfo
Ilustrasi Isi : Ayu Laksmi
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 280 halaman





Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa bertumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar terpercik setiap kali keduanya berserobok pandang.

Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan. Setiap tempat punya cerita. Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.
***
“Entah dunia ini yang semakin sempit atau ada konspirasi dibalik pertemuan yang tidak terduga ini” -halaman 192

Kesan pertama setelah membaca novel ini adalah kebetulan. Selalu ada kebetulan yang menguatkan pernyataan bahwa dunia ini memang sempit, dan segala sesuatu yang ada didalamnya saling berhubungan. Setiap tokoh meninggalkan negaranya untuk pergi ke Athena, Negara bagian Eropa yang sangat jauh dan tidak lazim menjadi tempat yang sekedar ‘tujuan wisata’.

Widha, mahasiswa semester akhir yang memiliki mimpi gila! Ia rela menyisihkan uang beasiswanya demi menjelajahi kota sang dewi kebijaksanaan demi mewujudkan impian masa kecilnya serta mending kakak kembarnya. Nathan, guru bahasa Indonesia di Australia yang ‘melarikan diri’ ke Athena dan terlibat petualangan dengan Widha, yang ditemuinya secara tidak sengaja. Dan, tentu saja hantu yang berasal dari masa lalu Widha, Wafi yang berada di Athena karena mengikuti festival musik.

Overall, Novel ini sangat menarik. Tidak banyak yang mengangkat Athena sebagai setting dalam sebuah cerita fiksi. Dari Widha, aku juga banyak belajar mengenai Athena. Ya, setiap tempat memang punya ceritanya tersendiri. Aku suka karena pengetahuan yang diselipkan di cerita ini bisa memperkaya wawasanku. Ya, walaupun aku harus jujur kadang membosankan juga kalo pengetahuannya lebih ditonjolkan daripada cerita tokohnya. Settingnya mengambil tempat-tempat eksotik yang disebutkan dan lagu-lagu yang menjadi soundtracknya langsung bikin aku kepo! Mari searching pemirsah ~

"Perjalanan ke plaka sama melelahkannya dengan agora. Namun, kali ini, terlalu banyak perasaan yang terlibat"-halaman 125

Kebersamaan itu menciptakan perasaan yang membuat Widha dan Nathan menjadi terlibat dalam masalah. Perjalanan mereka tidak lagi menyenangkan sejak masa lalu mereka yang rumit mulai terungkap

“Masa lalu itu hanya berhak untuk dikenang. Bukan untuk kembali dirindukan”

Well, aku sangat kagum dengan Nathan. Dia partner travelling yang menyenangkan. Satu hal yang aku suka adalah dia sangat menyayangi ibunya, dia tidak ingin mengulangi apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya, dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Novel ini merupakan salah satu novel dalam seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang merupakan proyek novel bertema travelling dari Gagas Media dan Bukune.

“Cinta itu kayak rinai hujan. Jatuh tanpa melihat siapa yang akan tertimpa. Jatuh tanpa memperhatikan secepat apa mereka sampai dibawah. Tahu-tahu kamu merasa basah. Tahu-tahu kamu merasakan desiran itu lagi”

Review Novel : Istri Cadangan

01.09

Istri Cadangan

Penulis : Mounalizza
Editor : Afrianty P. Pardede
Tebal Buku : 315 Halaman
Penerbit : Elex Media
Tahun Terbit : 2017



Ibra mencintai Marrisa, tetapi Marrisa lebih mencintai karier yang belum bisa dia raih sempurna. Sementara Rahma tak peduli arti cinta, belum mengerti lebih tepatnya. Ketiganya terlibat dalam perjanjian sensitif yang bisa saja melukai hati masing-maing. Dan sekali lagi, ketiganya memiliki alasan berbeda untuk menjalankannya. Seakan rasa tak terlalu penting untuk diperhatikan.

Ketika tantangan menjadi sebuah tanggung jawab berat di hati. Maka hati dengan mudah dipermainkan oleh sebuah janji. Apalagi jika janji tak bisa ditepati seperti awal. Akibatnya, awal rasa baru tumbuh enjadi sebuah perasaan terlarang.  Akhirnya yang terlarang dipatahkan oleh sebuah rasa yang tak terkalahkan. Dialah cinta, karena cinta semua bisa menjadi mudah. Atas nama pernikahan semua bisa menjadi indah.

Sanggupkah Marrisa memberikan tantangan ini? Sanggupkah Rahma memikul tanggung jawab sementara itu? Dan apakah Ibra juga sanggup memenuhi janjinya untuk sebuah kebahagiaan? Tak terlena karena seorang cadangan?
***

“Menikah itu untuk menyambung keturunan, Sayang. Aku mau pernikahan yang normal. Punya anak lalu hidup bahagia. Sederhana.” –halaman 7
Ibra punya cinta yang luar biasa tulus kepada Marrisa. Wanita itu adalah cinta pertamanya, yang selalu ia perjuangkan sejak lama. Meskipun berkali-kali ditolak, ia pantang menyerah mendapatkan cinta Marrisa. Hingga Ibra membujuk Rissa dengan berbagai cara agar mau menerima pinangannya.
Sayangnya permintaan Abraham Sarha –Ibra– itu tidak sesederhana itu. Marrisa tidak bisa menyanggupinya karena ia tidak tertarik dengan kehidupan berumah tangga seperti itu. Ia ingin meraih mimpinya menjadi seorang model internasional yang belum bisa diraihnya. Kebebasan yang ditawarkan oleh Ibra membuat Marrisa menerima pinangannya dengan dalih memperjuangkan karier yang dirintisnya. Masalah tidak berhenti sampai disana, orang tua Ibra menuntut untuk segera diberikan cucu, sehingga Marrisa memutar otaknya untuk mencari solusi terbaik bagi mereka.

Pertemuannya dengan saudara sepupunya, Rahma membuat Marrisa mendapat solusi terbaikl. Terlebih saat itu Rahma juga tengah mengalami kesulitan. Marrisa meminta Rahma untuk mengandung anak Ibra dan juga menikahi Rahma sebagai istri kedua. Istri cadangannya!
***

Istri cadangan. Dari judulnya aja, aku udah mikir aneh-aneh. Apalagi sejak baca prolog, aku dibuat cengo dengan perjanjian yang disampaikan oleh Marrisa. Bisa ya kepikiran buat perjanjian gila  dan konyol seperti itu? Tapi hal itulah yang terjadi. Ibra, Marrisa dan Rahma terlibat permainan dalam pernikahan yang rawan membawa perasaan.

Dari awal alurnya cukup cepat, interaksi Ibra-Rahma mengalir dan kocak banget.  Di awal pernikahan mereka aneh dan canggung, lalu mereka beradaptasi  hingga jadi klik. Rahma suka baperan dan Ibra yang ceplas-ceplos menyenangkan. Menjelang akhir cerita, alurnya menjadi lebih lambat dan kurang greget karena sudah bisa ditebak kelanjutannya seperti apa. Overall, aku sangat menikmatinya karena banyak kejutan yang dihadirkan. Tapi memang porsi kehadiran Marrisa kurang sehingga konflik jadi kurang memuncak. Meskipun begitu, penulis berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya. Aku geregetan dengan sikapnya Marrisa. Selain itu, kadang pengin banget menyadarkan Rahma atas keputusannya yang mudah menyerah dan tidak mau memperjuangkan suara hatinya. Ibra juga menurutku terlambat menyadari dan mengambil keputusan hehe..

Sebelum dipublikasikan dalam bentuk buku cetak, cerita ini sudah lebih dulu diunggah di akun wattpad. Tapi berhubung aku tidak membaca versi wattpadnya jadi tidak bisa membandingkannya. Yang udah baca versi wattpad dan versi cetaknya, bisa share pengalaman membaca kamu ya!

Karena ini cerita Le Marriage series, jadi dilarang baper ya! Meski tidak ada adegan eksplisit tapi cukup kentara karena kehidupan pernikahan mereka. Dari kisah Ibra-Rahma-Marissa, kita diajak memahami bahwa sesungguhnya kehidupan pernikahan itu bukanlah suatu permainan. Permainan yang melibatkan perasaan, rawan menimbulkan konflik batin di kemudian hari. Sebelum akhirnya kita terjerat dan termakan omongan sendiri, lebih baik disudahi bahkan tidak usah dimulai. Rahma juga membuktikan, yang cantik akan kalah dengan yang memberikan perhatian. Tuhan juga akan memberikan pasangan yang kita butuhkan, bukan sosok yang kita idamkan.
 “Ya, cinta akan datang di waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Terkadang yang ad di hadapan bukanlah pilihan dari Yang Maha Mengetahui untuk kita dapatkan. Sekuat apa pun kita memaksa, jika bukan pilihan tepat, dia akan mundur dengan sendirinya. Digantikan dengan pilihan paling baik untuk kita. Dan saat kita sudah sadar, rasa syukur menjadi pemenang. Menang karena obsesi sesaat mulai runtuh menghadapi gempuran tulusnya cinta. Percayalah. Tinggal tunggu saja bagi kalian yang belum menemukan. Karena cinta tahu ke mana dia harus pulang. Cinta itu akan pulang ke rumah dengan sendirinya.” –halaman 311

Review Novel : Finally Mr. Right

07.03

Finally Mr. Right

Penulis : Shita Hapsari
Penyunting : Fitria Sis Nariswari
Perancang Sampul : Titin Apri Liastuti & labusiam
Pemeriksa Aksara : Intan Puspa
Penata Aksara : Martin Buczer
Penerbit         : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Agustus 2015
Tebal Buku : 322 Halaman


Ava memiliki sejumlah impian tentang pernikahan idealnya. Salah satunya melangsungkan acara sakral itu secara tematik bersama Cindy dan Disti. Masalahnya hari pernikahan kedua sahabarnya sudah ditentukan tahun depan, sementara Ava sendiri masih jomblo!
Menurut Cindy dan Disti, jodoh yang diharapkan Ava terlalu konyol dan tidak realistis. Ava menyusun kriteria calon pendamping hidup berdasarkan karakter dan adegan dalam film-film favoritnya. Bahkan ia merancang beberapa skenario untuk mengetes mereka.
Hans dengan sosok rockstar-nya, selesai. Didit dengan karakter bagai bintang Hollywood favorit Ava, kandas. Roki yang diakui Ava sebagai cowok ganteng dan rapi, gagal di kencan pertama. Lalu, ada Kenzo, seseorang laki-laki yang cukup mendekati kriteria. Namun, setelah melalui tes rancangan Ava, masih ada saja yang membuatnya ragu.
Harapan Ava menipis. Kieran, partner bisnisnya yang masih lajang pun kini telah menemukan cewek incaran. Jadi, siapa yang akan menjadi lelaki yang tepat untuk Ava? Tidak hanya ava yang bimbang, tetapi juga Cindy dan Disti yang ikut gemas. Rencana pernikahan tematik ini terancam gagal!
***

“Kita cuma mau berharap kali ini lo mau berpikir rasional. Bukan berarti lo menurunkan standar. Lo bisa memulai segala sesuatunya dengan membuka diri, menerima, mengenai, baru kemudian menilai. Jangan buru-buru memberi cap pada orang tertentu hanya karena orang itu –di dalam kepala lo- kelihatan sesuai. Usia kita sekarang menuntut untuk mencari calon suami beneran.” –halaman 28

Novel ini bercerita tentang Ava yang kurang beruntung dalam hal percintaan. Kedua sahabatnya Cindy dan Disti, masing-masing sudah menemukan pasangan, sementara ia sendiri masih berstatus jomblo. Disadari atau tidak, menjomblo disaat usia sudah matang dan teman-teman sudah punya gandengan itu seperti memberikan tekanan sendiri. Nggak heran kalau Ava berusaha nyari jodoh, blind date dengan cowok rekomendasi teman-temannya. 

Seperti judulnya, Finally Mr. Right, proses pencarian si Mr. Right ini sangat panjang dan banyak tantangan sehingga alur ceritanya menjadi lambat. Ava memiliki rencana pernikahan idaman dan skema pria ideal yang sudah ia kumpulkan dalam sebuah buku. Kriteria pria idealnya banyak dipengaruhi oleh adegan dan karakter dalam kisah film favoritnya sehingga pilihan-pilihannya pun tidak jauh dari apa yang ia tuliskan disana. 

“Mungkin dia memenuhi segala fantasimu tentang cinta dan pria ideal. Tapi apa kamu yakin mau menikahi sebuah fantasi yang entah akan bertahan berapa lama sebagai fantasi” -halaman 242

Banyak hal yang ditunjukkan oleh penulis yang menjurus pada ending dan konflik yang akan dihadapi. Akupun sempat mengira endingnya sesuai dengan di buku, tapi penulis memunculkan berbagai kemungkinan yang ‘mengulur-ulur’ sehingga mempengaruhi prediksiku. Meskipun begitu, aku tetap menikmati membaca setiap lembarnya.

Penggunaan POV 1 membuat kita semakin dekat dengan sosok Ava. Pembaca seolah diajak menjadi sahabat Ava. Complicated dan baper-bapernya cewek tuh dapet banget! Ava, tokoh utamanya adalah cewek yang mandiri dan berani. Meski aku kadang sebel sama sikapnya, tapi aku salut dengan semangatnya dalam menghidupkan mimpi-mimpinya meski banyak yang meragukan. Gaya penulis bercerita juga sangat asyik, seolah mendengarkan Ava mengoceh langsung pada kita.

Aku suka cara Ava dan Kenzo membangun hubungan, smooth tapi progresif. Mereka bener-bener mengajak pembaca baper karena mereka kencan! Kenzo ini tipikal idaman aku sih. Jarang lo kita bisa ngobrol tanpa henti sama cowok dengan topik apapun dan dia selalu punya cara yang spontan dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan. Tapi tokoh favoritku ya tetap Kieran. Berhubung aku nggak pernah punya sahabat cowok jadi ya kadang pengin juga seperti Ava. Punya sahabat yang sepemahaman, selalu jadi tong sampah curhatan dan selalu siap pasang badan buat membela kita. How sweet!

Dari kisah Ava, kita belajar untuk hidup dengan realistis, tidak terlalu dipengaruhi dengan kisah fiksi yang kita baca atau kita tonton. Karena nyatanya, tidak semua hal di dunia ini terjadi sesuai yang kita harapkan. Seringnya kita terlalu fokus terhadap sesuatu yang belum pasti sehingga melupakan hal-hal penting disekitar kita. Begitu pula dalam cinta, mengutip apa yang dikatakan oleh Ava bahwa jalan menemukan Mr. Right kadang tidak panjang dan tidak berliku. Hanya sayangnya, kita buta membaca rambu.

Yang masih merasa ragu dengan keberadaan si Mr. Right, coba deh lihat ke sekeliling mungkin aja jodohnya sudah terlihat tapi kita yang belum sadar.

“Untunglah cinta tak pernah terlambat. Ia hanya datang dan pergi sesuai jadwalnya sendiri. Seperti lirik lagu-lagu pop bilang : love will find a way” - halaman 312

Review Novel : Sabtu Bersama Bapak

06.38

Sabtu Bersama Bapak


Penulis : Adhitya Mulya
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Proofreader : Yuke Ratna P & Mita M. supardi
Desainer Sampul : Jeffri Fernando
Penata Letak : Landi A. Handwiko
Penerbit         : Gagas Media
Tahun Terbit : 2015
Tebal Buku : 278 Halaman
***

Video mulai berputar
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
Ini, Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak
Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak perlu bingin kemana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tetang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang ibu yang membesarkan mereka dengan sepenuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
***
"Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik. Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian rajin dan tidak menyerah." -halaman 151

Novel ini menceritakan tentang kehidupan keluarga Garnida. Tentang Gunawan Garnida, seorang suami dan bapak yang sangat bertanggung jawab dan memiliki perencanaan yang baik. Tentang Ibu Itje Garnida, seorang istri serta ibu yang sederhana dan keras kepala karena tidak ingin membebani anak-anaknya. Dan tentu saja, tentang Satya dan Cakra, dua orang anak laki-laki di keluarga Garnida. Keduanya tumbuh  dengan baik dan tanpa kehilangan sosok ayah dalam setiap masa perkembangan mereka walaupun ayah mereka harus pergi untuk selama-lamanya saat usia mereka masih muda. Gunawan memberikan ‘warisan’ berharga yang selalu dijadikan pedoman hidup bagi Satya dan Cakra. Ya, kumpulan video yang selalu mereka tonton setiap hari sabtu.

Ide cerita novel ini bisa dikatakan sangat menarik. Tidak banyak orang tua yang memiliki sikap perencanaan baik terhadap masa depan keluarganya, seperti yang dilakukan ol
eh Bapak Gunawan. Media yang menjadi fokus utama pada novel ini adalah video yang direkam oleh Gunawan Garnida saat ia sakit di tahun 1991. Penggunaan media ini adalah salah hal unik yang menjadi daya tarik utama dari novel ini.

Novel ini menceritakan kehidupan Satya dan keluarga kecilnya, kehidupan ibu Itje yang menjanda di masa tuanya serta Cakra yang tetap menjomblo disaat usianya sudah cukup matang untuk berumah tangga. Kehidupan keluarga Garnida ini diceritakan secara bergiliran. Perbedaan gaya penulisan sangat terlihat. Gaya penulisan cerita kehidupan Satya dan Mamah Itje lebih formal dan serius sedangkan cerita Satya dituliskan dengan ringan diselingi dengan kalimat-kalimat yang mengundang tawa. Tidak hanya itu, ada pula beberapa catatan kaki yang menggelitik.

Penokohannya sangat kuat dan jelas, baik dari deskripsi secara fisik, pekerjaan bahkan sikap-sikap mereka sehingga tokoh menjadi hidup dalam imajinasi pembaca. Setting luar negeri (Copenhagen) pada cerita Satya juga diceritakan dengan baik.Ada kejanggalan yang ditemukan dalam novel ini. Menurut bab pertama setelah prolog, pada tahun 1993, Satya berusia 8 tahun dan Cakra berusia 5 tahun. Berarti Satya lahir pada tahun 1985 sedangkan Cakra lahir di tahu 1988. Tetapi mengapa usia Cakra di tahun 2016 adalah 30 tahun? Bukankah seharusnya 28 tahun?. Dalam beberapa kalimat percakapan juga menggunakan bahasa Sunda tetapi ada beberapa kosakata dalam bahasa Sunda yang tidak dituliskan miring.

Sabtu bersama Bapak cocok dibaca oleh kalangan berbagai umur, karena selain sarat dengan nilai-nilai kehidupan, novel ini juga mengutamakan cerita tentang kekeluargaan. Tentang bagaimana persiapan menjelang kehidupan baru, tentang menjaga hubungan dengan pasangan, orang tua maupun mertua.

Novel ini juga telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Film yang rilis di tanggal 5 Juli 2016 ini dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris kenamaan diantaranya Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha dan beberapa pemeran pendukung lainnya. Film yang meraup 639.530 penonton ini bisa dikatakan berhasil menjadi salah satu film drama bertema keluarga yang direkomendasikan. Visualisasi sesuai dengan ekspektasiku dan alur ceritanya juga serupa dengan novelnya.

"Manusia ditempatkan di dunia untuk membuat dunia ini lebih baik untuk sebagian orang lain. Jika pun seseorang sudah berguna bagi 1-2 orang, orang itu sudah membuat dunia ini jadi tempat yang lebih baik" -halaman 31.