Review Novel : The Boy I Knew From Youtube

18.40

The Boy I Knew From Youtube

Penulis               : Suarcani
Penyunting         : Midya N. Santi
Penyelaras Aksara : Wienny Siska
Desain Sampul  : Sukutangan
Penerbit             :Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku        : 256 halaman
Tahun Terbit      : 2020
ISBN                 : 978-602-06-3819-5
ISBN Digital      : 978-602-06-3820-1

Blurb
Pada hari pertama di SMA, Rai terkejut. Ternyata Pri, pemilik channel Pie Susu, adalah kakak kelasnya. Mereka sering berinteraksi di kolom komentar YouTube, bahkan berlanjut ke e-mail.

Pie Susu tidak pernah mengetahui identitas Rai. Video cover lagu-lagu yang Rai nyanyikan di channel Peri Bisu hanya menayangkan sosoknya dari belakang. Itu pun sebatas pundak ke atas. Karena sudah tiga tahun Rai tidak lagi nyaman menampilkan bakat menyanyinya di dunia nyata.

Saat tiba-tiba Rai terpaksa harus tampil lagi di depan umum, Kak Pri bersedia mengiringinya dengan gitar. Persiapan lomba akustik pun menggiringi interaksi mereka di dunia nyata. Namun, Ria masih tidak percaya diri. Terutama ketika gosip dan perlakuan tidak menyenangkan atas ukuran tubuhnya kembali mencuat.
***

Sebelumnya mau ngucapin selamat atas kelahiran novel ini buat Mbak Suarcani. Setelah tau, udah rilis di Gramedia Digital, langsung auto download. Baca karya Mbak Suarcani emang bikin nagih. Kalo di novel-novel beliau sebelumnya, termasuk dalam lini Young Adult dan Metropop GPU. Aku terbiasa gaya cerita yang asik dengan twist yang tidak terduga dan perasaan yang kompleks ketika membaca novel beliau.   

Novelnya kali ini masuk di lini teenlit. The Boy I Knew From Youtube bisa dikatakan cukup oke. Covernya juga cakep banget! Tema yang diangkat sering terjadi di kalangan remaja. Isu body shamming, bullying dan rasa insecure pada diri sendiri , benar-benar dekat dengan kehidupan kita. Apalagi ditambah sedikit bumbu persahabatan-percintaan ala-ala SMA, bikin ceritanya makin sip.

“Membicarakan hal-hal pribadi  apalagi sampai membuat kamu mengalami body shamming dan pelecehan seperti ini bukanlah hal yang etis. Orang itu harus dikasih pelajaran biar dia ngerti cara menghargai perbedaan, menghargai orang lain.” – halaman 114

Novel ini menggunakan POV3, dengan alur maju. Ceritanya lebih fokus pada Rai tentang bagaiana dia berusaha untuk kembali bangkit, melawan rasa takutnya dan membuktikan bahwa ia bisa meraih impiannya. Dukungan yang tulus dari orang-orang sekitarnya juga sangat membantu. Inilah yang paling dibutuhkan pada kasus seperti Rai. Apa yang dialami oleh Rai diceritakan dengan jelas. Baik penggambaran keadaannya, maupun perasaan yang dialami oleh Rai bisa aku rasakan. Pesannya juga tersampaikan kepada pembaca. Salut banget dengan penyelesaian konfliknya.

Novel ini juga memuat hal yang lagi “in” saat ini yaitu YouTube. Aku kira bakal menyinggung soal dunia youtuber dan sebagainya. Tapi ternyata nggak. Hanya perkenalan Rai dan Pri aja lewat sana, dan ternyata ketemu di dunia nyata. Kebetulan satu sekolah dan tergabung di ekskul yang sama.

Yang aku suka disini adalah sosok Rai yang ‘biasa aja’ tapi punya potensi. Bukan tipikal tokoh cewek di novel kebanyakan yang populer. Rai menarik dengan caranya yang berbeda. Tokoh-tokoh lainnya punya karakter yang kuat. Kak Pri yang loveable, Kak Saka yang care dengan caranya sendiri, Kiki –sahabat Rai yang kadang nyebelin juga, Lolita –yang sudah kuduga sifatnya wkwk.. Masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Settingnya masih di Bali. Kali ini bukan tentang tempat-tempat menarik, tapi kebiasaan dan beberapa kalimat berbahasa Bali disertai penjelasan artinya pada footnote. Sekadi mantap sampun niki! Yen Mbok Suarcani nulis ne care kene, jeg pasti CGT wkkwkk 

PS. Aku menunggu collab Pie Susu dan Peri Bisu secepatnya!


“Asal kamu tahu, inti utama dari bahagia itu sebenarnya adalah rasa puas. Jika puas terhadap apa yang kemu miliki hari ini, pasti bisa merasa bahagia. Tak ada ekspektasi berlebih, enggak ada rasa kecewa ketika harapanmu nggak kesampaian.” –hlmn. 142.

Review Novel : Kenya

00.22


Kenya

Penulis               : Kincirmainan
Penyunting         : Yuke Ratna Permatasari
Penyelaras Akhir: Ani Nuraini Syahara
Ilustrasi Sampul : Bella Ansori
Desainer              : Dea Elysia Kristianto
Penerbit              : Bhuana Sastra
Tebal Buku         : 347 Halaman
Tahun Terbit       : 2019
ISBN                  : 978-623-216-064-4
Blurb

Gue Kenya Barika Bayo, lahir di Kenya, punya adik cowok yang super mega ultra sensitif bernama Afrika.
Seperti cewek lain di muka bumi ini, gue juga bikin resolusi tahun baru yang nggak berguna sebab isinya 85% gagal 10% pasti segera gagal dan 5% belum pasti gimana nasibnya.
Kacau.
Delta, cowok yang gue sayang dari kecil dan mau gue tembak tepat pada malam pergantian tahun, which is bagian dari rencana besar gue tahun ini, justru jadian sama sahabat gue!
Parahnya, malam itu gue malah jatuh ke pelukan Data, adiknya Delta!
Oh my God, Kenya, what were you thinking?!
***
We’re not friends, not yet lovers, tapi gue nggak siap buat jadi nothing buat lo.” –hlmn.69

Novelnya Kincirmainan yang kesekian yang aku baca. Makin kesini gaya ceritanya masih asyik, page turner banget. Selipan-selipan humornya bikin ngakak. Novel Kenya ini punya premis sederhana –cinta segitiga dan friendzone– tapi eksekusinya ngena. Kisahnya Kenya ini sekilas mengingatkan aku pada The Chronicle of a 35-year-old woman, karena hubungan kakak adik yang suka sama orang yang sama kali ya, tapi berbeda banget sih.

Konfliknya di novel Kenya ini bikin ‘sesak’ haha.. karena terlalu rumit. Terlalu banyak emosi yang terlibat. Antara Kenya dengan keluarganya, sahabat, mantan gebetan, gebetan hingga temen senang-senang *eh gimana? Aku merasa ceritanya kurang fokus, berputar-putar. Tapi tetap aja nggak bisa bikin berhenti baca hingga halaman terakhir. Twistnya padahal cukup kentara, tapi aku tidak menyadarinya.

“Nggak ada yang nggak rumit kalau mereka mencintai orang semacam lo, Kenya. You could break any heart.” –hlmn 184

Novel ini diceritakan dengan POV 1 versi Kenya. Jadi selama baca aku merasa sangat dekat dengan Kenya. Aku memahami berbagai perasaan yang dirasakannya. Kenya, sosok yang unik. Secara fisik udah bisa dilihat di cover buku ya. Rambut keriting, kulit berwarna kecokelatan yang eksotis, ekspresi wajahnya imut banget kalau lagi manyun gitu. Secara sifat, Kenya ini sosok yang tegar, mandiri, berani, blak-blakan, punya daya tarik tersendiri deh. Nggak susah untuk jatuh dalam pesonanya Kenya. Beda dengan tokoh novel-novel kebanyakan.

Sementara Afrika, adik cowok Kenya juga ada ilustrasinya di cover belakang. Keduanya sangat bertolak belakang. Tapi kalo udah scene mereka bawaannya rame banget. Kenya dan Afrika adalah siblings goals! Mereka saling menyayangi dengan caranya sendiri. Chemistry Kenya-Data juga klop banget. Sependapat deh dengan Afrika soal mereka berdua.

Well.. Tokoh yang lain punya peran yang pas, karakternya juga kuat. Mereka punya rahasia masing-masing yang mendukung cerita jadi makin rumit. Btw, tokoh-tokoh cowok di sekeliling Kenya sebut saja Delta, Data, Bang Andre hingga Nanta ini hadir dengan plus minus masing-masing. Semua ngasi pembelajaran buat Kenya dalam perjalanan asmaranya. Bicara tentang tokoh favorit, aku paling suka sama sosok Nanta. Meski muncul mulai pertengahan novel, Nanta langsung mencuri perhatianku. Emm,, gimana yah? Pokoknya dia menarik aja. Tak perlu banyak effort *cieh*

Salut dengan penulis yang berani memunculkan hal-hal yang tidak biasa di masyarakat kita. Label novel ini untuk pembaca usia 18+ ya. Bukan karena scene yang gimana-gimana sih, tapi perlu kedewasaan untuk memahami pola pikir, bad habit, perkataan maupun ketidaklaziman lain yang ada di novel ini. Menurutku tidak mengganggu sih, karena nyatanya hal-hal tersebut memang ada. Background cerita dari tokoh-tokohnya juga unik. Misalnya aja asal-usul nama Kenya dan Afrika, pekerjaan dan impian Kenya. Pokoknya explorasi yang menarik sehingga memunculkan cerita yang segar.

Denger-denger, novel ini akan ada sekuel-nya. We’ll see. Semoga aku bisa baca buku lanjutannya juga.

 “Jangan pernah merahasiakan apapun dari orang yang kamu cintai. Jangan pernah mengulang apa yang sudah menjadi bagian terburuk dalam hidup kami.”-hlmn. 311

Review Novel : As Always I Love

06.35


As Always I Love

Penulis                 : Nureesh Vhalega
Penyunting         : Maria Lusia Anindya
Tahun Terbit      : 2019
Penerbit              : Elex Media
Tebal Buku          : 273 Halaman

Blurb
Beberapa bulan menjelang pernikahannya, ayah Lyrrani Bestari meninggal. Dunianya runtuh, karena selama ini dia merasa hanya punya ayahnya dan Rayen, sahabatnya sejak masa SMA. Tidak hanya itu, beberapa masalah mulai bermunculan seiring persiapan pernikahannya. Sesosok orang yang hilang dari hidupnya empat belas tahun lalu, tiba-tiba kembali. Belum lagi, Juan, tunangannya, yang tetap sibuk dengan pekerjaannya di tengah persiapan pernikahan mereka.
Lyrra bersyukur punya Rayen yang dapat selalu ia andalkan di tengah semua permasalahan yang dihadapinya. Keduanya begitu dekat sampai semua orang di sekitar meragukan persahabatan mereka. “Kami cuma sahabat”sudah sering mereka lontarkan.
Apakah Rayen dapat membantu Lyrra melewati ini semua menuju pernikahannya? Ataukah Rayen akan menghancurkan semuanya.. dengan menyatakan perasaan yang sesungguhnya.
***

“Waktu tidak bisa membekukan luka, hanya membuatnya lebih mudah untuk ditanggung.” –hlmn. 73
As Always I Love adalah novel terbaru Kak Nui yang diterbitkan oleh Elex Media. Novel ini jadi karya pertama beliau yang aku baca. Kalo baca blurbnya, sekilas As Always I Love ini punya tema yang standar ya. Konfliknya tentang friendzone Lyrra-Rayen dan cobaan menjelang pernikahan Lyrra-Juan. Tapi sebenarnya konfliknya tidak hanya sekedar itu. Kisah keluarga masing-masing juga ikut berperan penting dalam novel ini. Iya, secomplicated itu dan menarik buat diikuti.

Aku suka cara kak Nui menjalin ceritanya. Rapi dan perlahan-lahan mengungkap clue-clue dan menyuguhkan twist hampir di bagian akhir novel. Bagaimana twistnya? Dibaca aja deh, takut spoiler disini. Yang jelas, aku tidak terlalu terkejut karena udah sempat menduga-duga kesana. Dengan alur maju mundur menggunakan POV 1 versi Lyrra. Gaya ceritanya mengalir, enak dibaca. Penyelesaian konfliknya sangat bijaksana.

Chemisty Lyrra-Rayen udah nggak usah diragukan lagi deh. Bener-bener klop! Mereka saling care tapi juga berdebat. Sosok Ray sangat menyenangkan, pengertian. Benar-benar cowok idaman. Sementara sosok Lyrra, sosok yang sangat tegar karena menyimpan banyak luka. Karakter keduanya sangat kuat, jadi yang lainnya dapat porsi pendukung yang pas. Interaksi antar tokoh, kebiasaan-kebiasaan sederhana mereka justru membuatku sangat terkesan.

Oya, buat yang sudah baca novel Take Me For Granted kamu akan menemukan Ellya disini. Begitu juga sebaliknya. Novel ini saling berkaitan, jadi sebaiknya kamu baca keduanya. Keduanya diterbitkan oleh Penerbit Elex Media.

As Always I Love ini menghadirkan rasa haru dan sendu. Novel ini tidak hanya bercerita tentang proses berdamai dengan keadaan, tapi juga tentang kesabaran. Menanti dan menekan ego sangat sulit, apalagi hingga kita benar-benar ada pada waktu serta kesempatan yang tepat.

“Yang terbaik bakal datang di waktu yang tepat. Bukan di waktu yang kita mau, atau kita harapkan, tapi di waktu yang tepat.”-hlmn 172

Review Novel : 90 Hari Mencari Suami

06.11


90 Hari Mencari Suami

Penulis                 : Ken Terate
Penyunting         : Raya Fitrah
Penyelaras Aksara : Yuliono/Laura Ariestiyanti
Perancang Sampul : Yogi Fahmi Riandito @yfriandito
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : 2019
Tebal Buku          : 360 Halaman

Blurb
Eli panik saat resmi berusia 30 tahun. Mimpi-mimpinya tentang sukses sebelum “30 tahun” kandas seketika karena dia tak hanya belum menikah, tetapi juga tidak punya pacar sama sekali. Kariernya? Sama karamnya dengan kapal Titanic. Dia masih menjadi budak artis di Glow Event Company dan sadar tak bakal pernah naik pangkat menjadi artis itu sendiri.
Kepanikannya berlipat-lipat saat adik perempuannya, Lisa, akan segera menikah. Waduh! Dalam budaya Jawa ada mitos mengerikan; jika kamu didahului menikah oleh adikmu, kamu bakal jadi jomlo. Selamanya.
Eli tak tahu apakah dia ingin menikah dan membangun keluarga. Tetapi, dia yakin tak ingin menua sendiri. Masalahnya, jika tak mau jadi lajang abadi, dia harus menemukan suami dalam waktu kurang dari 90 hari!
Kayak masih belum cukup, Eli dipecat dari pekerjaannya! Adakah yang lebih mengerikan dibanding berusia 30 tahun dan nggak punya pekerjaan?
Ada!
Berusia 30, jobless, jones alias jomlo ngenes, dan terancam jadi perawan tua.
***


“Ironis banget ya, pada usia tiga puluh tahun, aku tak hanya menyadari bahwa mimpi-mimpiku dahulu begitu menggelikan. Namun, juga mimpi itu bagaimanapun menggelikannya sudah resmi gagal teraih. Karena aku sudah tiga puluh tahun!” -hlmn. 12

90 Hari Mencari Suami adalah novel debut Ken Terate di lini Metropop GPU. Sebelumnya Ken Terate banyak menerbitkan novel lini teenlit yaitu Jurnal Jo Series, Dark Love, Minoel dan beberapa buku lainnya serta menjadi salah satu penulis novela Cerita Mamah Muda. Dengan judul dan blurb yang menarik membuatku excited membacanya. Akhirnya, dapat kesempatan ikutan Baca Bareng Minjul lewat Gramedia Digital.

Sebagai novel debut, novel ini termasuk oke. Ide ceritanya khas Metropop banget, menampilkan kisah wanita single yang tinggal di ibu kota, suka duka menjadi pekerjaan serta kegalauan tokoh di usia yang dewasa tapi tidak cukup beruntung dalam hal asmara. Novel ini juga menampilkan anggapan atau kepercayaan pada masyarakat tentang dilangkahi yang katanya akan membuat susah jodoh. Konfliknya ternyata tidak hanya seputar masalah asmara Eli saja, tapi lebih kompleks dari itu. Misalnya aja konflik di pekerjaan dengan atasannya, juga suka dukanya menangani sebuah event. Belum lagi, masalah yang menimpa kedua sahabat Eli, Sandra dan Rosa.

Gaya cerita yang lincah dan kocak membuat novel ini makin seru. Meskipun gaya ceritanya masih agak kaku, tapi aku masih nyaman membacanya. Alurnya memang agak lambat, kurang greget  awalnya tapi makin ke belakang aku makin penasaran dengan misi Eli mencari suami. Penggunaan POV 1 versi Eli, membuat aku merasa dekat dengannya. Kegalauan Eli pada usianya ke-30 sangat beralasan, aku bisa memahami perasaannya. Walaupun usia kami terpaut cukup jauh hehe..

Bicara soal tokoh utamanya, sosok Eli menyenangkan dan menarik, nggak susah sebenarnya untuk menarik perhatian cowok. Dia punya prinsip tentang hidupnya. Scene yang paling suka, kalo udah Trio Macan ini ngumpul, selalu heboh dan kompak meskipun mereka memiliki berbagai pandangan yang berbeda. Moment sedih senengnya mereka, bikin aku pengin juga punya persahabatan yang langgeng kayak mereka.

Selain Eli dan sahabat-sahabatnya, Sandra dan Rosa. Ada cukup banyak tokoh yang dihadirkan tapi punya peran masing-masing. Salah dua yang favorit buatku adalah Dimi, teman masa kecil Eli. Orangnya sederhana, praktis dan bijak banget. Satu lagi Tristan, sosok pekerja keras dan jadi idamanku banget *ditowel Mbak Eli*

Bicara tentang misi Eli, sebenarnya strategi pencarian Eli tidak bisa dibilang gagal. Eli banyak bertemu yang potensial. Tapi kadang banyak hal terjadi diluar dugaan kita kan? Boleh banget punya target, tapi jangan terlalu keras pada dirimu. Tentunya kita juga harus terus berdoa, berusaha dan lebih peka. Kalo kata Dimi sih, kalau bukan jodoh memang mau diapakan? Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik pada waktu yang lebih baik pula.

“Kadang-kadang, kita mencari terlalu jauh. Kita sibuk kesana kemari, padahal apa yang kita cari sebenarnya sangat dekat. Mungkin kamu perlu santai sejenak melihat sekelilingmu. Siapa tahu kamu menemukan pasanganmu di situ.” –hlmn 193



Exclusive First Chapter : Kenangan Hujan

04.26


KENANGAN HUJAN



Penulis : Dy Lunaly
Penyunting : Falcon Publishing
Ilustrasi Sampul : Cl Nov
Penata Letak : @abdul.m
Penerbit : Falcon Publishing
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-602-6714-58-9


Sinopsis
Kenangan Hujan bercerita tentang perjalanan memori Akasha, seorang dokter anastesi yang belum pernah jatuh cinta. Dia bertemu dengan Raini, gadis manis yang sederhana namun memesona. Akasha sangat tertutup dan pasif sedang Raini sangat ceria dan mudah berteman. Tapi, apa mereka bisa bersatu jika Akasha hanya mampu memandang gadis pujaannya dari jauh.
***

Kenangan Hujan/ke.nang.an.hu.jan/Sesuatu yang membekas dalam ingatan hadir kembali saat titik-titik hujan berjatuhan

Sejak bulan Oktober lalu, teaser novel ini seliweran di timeline. Udah intip-intip beberapa teasernya di Instagram kak Dy dan Falcon Publishing, dan tertarik. Akhirnya aku nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi salah satu pembaca 30 halaman pertama novel Kenangan Hujan. Terima kasih atas kesempatannya, Kak Dy. Well.. Aku suka banget sama novel-novel beliau. Novel ini adalah novel beliau yang ke-11.

Covernya simpel dan cantik. Kental dengan nuansa hujan. Ilustrasi sosok laki-laki dan perempuan serta payung kuning yang punya peran penting buat kisah ini. Beberapa bab yang dibagikan, pembaca diajak berkenalan dengan Akasha dan Raini. Dua orang sosok yang bertolak belakang. Akasha yang terlalu serius dan pasif, sedangkan Raini sosok yang ceria dan menyenangkan. Akasha melihat sosok ‘peri’ ketika hujan. ‘Peri’ yang sangat menarik perhatiannya. Meski langsung menghilang sebelum Akasha sempat menemuinya dari dekat. Sekian waktu berlalu, Akasha kembali bertemu dengan gadis itu. Mereka bertemu, saling mengamati dari jauh.

Seperti biasa gaya ceritanya Kak Dy mengalir, sangat enak dibaca. Perkenalan beberapa bab awal sudah cukup mendapatkan gambaran cerita, dan karakter tokoh utamanya. Sesuai judulnya, hujan dan kenangan sangat mendukung cerita. Hujan dan kenangan adalah kombinasi yang pas. Ngasi efek manis-sendu nostalgic gitu deh.

Kesan yang aku rasakan adalah kisah mereka menarik. Setting tempat dan profesi Akasha yang pernah aku lihat dan alami, membuat aku merasa dekat dengan cerita ini. Pertemuan mereka sederhana tapi berkesan. Meski prosesnya cukup lama, tapi diceritakan dengan cepat. Sebenarnya aku merasa geregetan juga.. Segitu lamanya looo.. Tapi ya mungkin segalanya tentang waktu yaa. Akan ada satu moment yang tepat untuk sesuatu yang hebat. Selain itu, aku juga beneran frustasi sama tingkahnya Akasha. Ribet banget anaknya wkwk..

Well.. Ini ceritanya benar-benar awal banget sih. Belum tahu arah konfliknya kemana. Tapi udah cukup menimbulkan beberapa tanda tanya, terutama tentang kenangan-kenangan. Bagi yang penasaran juga, boleh gih segera jemput Kenangan Hujan. Kontak kak @dylunaly @falconpublishing

 “Terkadang aku berpikir mungkin saat itu Allah tidak mengizinkan kita untuk berkenalan karena saat itu aku belum cukup siap untuk menjadikanmu bagian dari hidupku.”-hlmn. 8



Review Novel : Me Time

06.22


Cerita Mamah Muda : Me Time

Penulis                 : Lea Agustina, Ken Terate, Ruwi Meita, Mia Arsjad, Donna Widjajanto
Penyunting         : Donna Widjajanto
Penyelaras Aksara: Dwi Ratih Ramadhany
Perancang Sampul: Orkha Creative
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : 2018
Tebal Buku          : 272 halaman
ISBN                      : 9786020387413

Sinopsis
Anak yang menangis dan bertengkar satu sama lain. Suami yang cuek. Cucian baju dan piring yang menumpuk. Lantai rumah yang lengket karena belum dipel. Belum lagi pekerjaan demi sesuap berlian yang juga meminta perhatian.
Dilanda berbagai beban itu, apa lagi yang paling dibutukan para mama muda selain me time? Sejenak rehat dari hiruk pikuk rumah tangga dan kehidupan.
Namun, apakah me time dapat diperoleh dengan mudah? Bagaimana kalau me time malah menggiring mama muda kepada kepanikan baru, eksplorasi jati diri, kenangan masa lalu, jodoh kedua atau malah melontarkannya ke masa depan?
Nikmati kisah-kisah me time yang dirangkai lima pengarang yang juga mama muda dalam antologi ini.

“Setiap orang butuh sendiri. Kupikir itu tidak egois. Bukankah kita harus tetap menjaga kewarasan kita?”-halaman 142.
Kalau sudah menikah apalagi punya anak, Me Time bagi wanita jadi hal yang langka. Novel ini berisikan lima kisah mamah muda yang ditulis oleh lima orang penulis kenamaan. Kisah mereka pun bermacam-macam. Seperti yang dituliskan dalam sinopsis, ada yang menjadi istri, ibu bahkan ada juga yang bekerja. Gimana kisah-kisah mereka? Yuk intip reviewnya!

1.    Save The Last Dance – Lea Agustina
Bercerita tentang kesibukan Maya, sebagai ibu rumah tangga dan juga ibu bagi tiga orang balita. Setelah menikah, ia fokus mengurus keluarganya dan melupakan impiannya sebagai penari. Saat keinginan Me Time dan kesempatannya datang, tiba-tiba ia keadaannya berbeda. Maya berhasil mewujudkan mimpinya, meskipun segalanya terasa aneh.
Kisah Me Time-nya Maya ini seru banget. Dengan menggunakan POV3, pembaca diajak mengingat kembali masa muda Maya saat masih menari. Kisah pertemuannya dengan Reno, suaminya yang sangat unik. Ada unsur-unsur fantasinya, perpindahan cerita juga sangat mulus sehingga aku ikutan tercengang saat mendapati keadaan berubah. Bahkan sampai akhir cerita, masih menyisakan tanda tanya. Kok bisa gitu ya, gimana ceritanya?

2.    Setelah Fio Hadir –Ken Terate
Kisah ini tentang Asti, ibu dari bayi berusia 10 bulan. Novella ini menceritakan kisah Asti-Edo yang berjuang memiliki buah hati. Asti bahkan harus merelakan resign dari pekerjaannya demi bisa fokus melakukan program kehamilan. Bahkan hingga Fio hadir, segalanya belum berhenti. Justru baru dimulai. Perjuangannya menjadi seorang ibu muda yang kadang juga sering repot dan kewalahan mengurus bayi.
Novella ini dituliskan dengan alur maju mundur dengan POV 1. Meskipun belum pernah mengalami, aku bisa memahami apa yang dirasakan oleh Asti. Berbagai emosi yang dia rasakan dari sebelum hamil, hingga melahirkan dan membesarkan Fio tersampaikan padaku. Perjuangannya sangat luar biasa. Semua ibu adalah orang yang hebat. Tapi, keberhasilan itu juga tidak terlepas dari dukungan orang disekitar seperti suami, orang tua, mertua dan sebagainya. Kadang kita merasa idealis tentang anak, tapi kita juga harus realistis. Menjadi orang tua harus tetap have fun.

3.    The Singing Coffin – Ruwi Meita
Bercerita tentang Diani, seorang single mom dari anak dengan Anthophobia. Yang juga mengelola toko bunga. Berbagai trauma berkenaan dengan bunga dan juga peti mati. Belum lagi kemampuan istimewa yang dimiliki Diani, kadang ia masih suka terbayang-bayang dengan kenangan tersebut. Diani kemudian bertemu dengan seseorang yang punya pengalaman serupa dengannya, bahkan menawarkan me time dengan cara berbeda.
Dengan alur maju mundur dengan POV3, cerita ini diramu apik khas Ruwi Meita. Di tangan beliau, kisah seorang mama muda pun bisa terasa beraura gelap dan terasa mencekam. Endingnya pas, manis dan bikin penasaran!

4.    Pangeran Untuk Nina – Mia Arsjad
Kisah ini tentang Nana, working mom, ibu tunggal bagi Nina dan juga beberapa ekor kucing. Kesibukan dan kekacauan yang terjadi di rumah, membuat Yama –kekasihnya mengusulkan me time untuk Nana. Yama menyanggupi akan menggantikan peran Nana selama ia berliburan. Berhasilkah ia menikmati me time-nya?
Kisah Nana ini manis banget. Relate bagi kita semua, bukan hanya para mamah. Kalo lagi mumet sama kerjaan, sama ‘kekacauan’ di rumah, opsi liburan emang paling tepat sih. Sama Nana, aku belajar untuk lebih woles dan mempercayai orang lain karena memang nggak semua hal bisa kita handle sendiri. Jadi lebih spontan juga hihi.. Sosok Yama juga pengertia banget. Sepakat deh sama usul Wina 

5.    Tiket – Donna Widjajanto
Berawal dari ketinggalan pesawat, Illi  yang juga ibu dari dua orang anak akhirnya dapat menikmati me time-nya. Meskipun tidak disengaja, moment ini menjadi pengingat bagi Illi untuk lebih memikirkan dirinya sendiri. Terlepas dari perannya sebagai ibu, tapi juga menemukan jati diri dan apa yang diinginkannya.
Baca kisah ini bikin mewek, segitunya ya jadi ibu? Meskipun sempat mengalami krisis identitas, beruntunglah Illi tetap mendapat dukungan dari suami dan orang tuanya. Dengan POV 3, dan alur maju mundur kita diajak untuk bernostalgia pada awal pernikahan Illi dan Carlo. Keputusan mereka untuk menikah muda, mengambil resiko. Salut deh pokoknya dengan Illi.
Kisah mamah muda ini menginspirasi kita untuk tetap menikmati hidup dengan cara kita sendiri, sesibuk apapun kita. Me time sangat diperlukan untuk menyegarkan diri dari segala rutinitas, tapi juga menemukan hal baru yang menarik dan membuka kesempatan serta pengalaman baru. Rekomended bagi para mamah muda dan juga bagi keluarga, agar bisa mendukung me time bagi para mamah. Karena mengutip kata Carlo, suami Illi, bahwa kebahagiaan para ibu adalah fondasi bagi rumah dan keluarga. Selamat membaca!

“Menurutku, seharusnya me time itu tidak hanya digunakan untuk istirahat dan refreshing, tapi juga harus bisa digunakan untuk mengembangkan diri.” –halaman 267

Review Novel : Crooked House (Buku Catatan Josephine)

15.59


Crooked House (Buku Catatan Josephine)

Penulis             : Agatha Christie
Alih Bahasa     : Mareta
Sampul            : Staven Andersen
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Terbit              : Cetakan kesebelas, Juli 2017
Tebal Buku      : 272 Halaman


Sinopsis

Meski tinggal di rumah besar yang reyot, keluarga Leonides tampak bahagia. Tetapi semua itu berakhir ketika sang kakek, Aristide, tewas dibunuh.
Kecurigaan tertuju pada janda Aristide, yang usianya lima puluh tahun lebih muda, namun sebelum misteri terpecahkan, seorang anggota keluarga lagi terbunuh.
Charles Hayward, bujangan Inggris yang jatuh cinta pada Sophia Leonides, cucu Aristide, membantu mengungkapkan siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan melalui sebuah buku harian.
***

Setiap orang di rumah ini punya kesempatan dan cara. Yang kuperlukan adalah motif.” –halaman 67
Tidak heran jika buku ini menjadi salah satu buku favorit dan buku terbaik bagi penulis. Banyak yang menyukai buku ini, karena kisah keluarga Leonides memang seseru itu! Kasus yang terjadi di keluarga Leonides ini diceritakan dari POV 1 versi Charles Hayward. Aku sebagai pembaca, seolah berperan sebagai Charles. Sosok ‘detektif baru’ yang berusaha memecahkan kasus dengan mendekati dan menemukan motif dibalik pembunuhan tersebut.

Keluarga Leonides ini sangat rumit. Agatha Christie kembali menghadirkan keterlibatan keluarga sebagai orang terdekat, sekaligus paling berbahaya dalam kasusnya. Setiap tokoh memiliki pandangan terhadap sosok Aristide, yang memungkinkan menjadi motif untuk merenggut nyawanya. Pengembangan karakternya sangat detail. Banyak karakter yang bersikap mengecoh, jadi agak sulit bagiku menyelami motif dan mengumpulkan bukti-bukti dengan menginterogasi semua anggota keluarga Leonides. Semuanya punya porsi yang pas, dan berpotensi untuk menjadi tersangka. Melihat dan mendengar pembelaan-pembelaan mereka membuat dugaanku berpindah-pindah.

Kisah ini bisa dikatakan ‘tanpa detektif’, hanya bersumber pada sebuah catatan. Tapi mampu mengungkap segalanya. Twistnya memang tidak terduga. Kaget banget saat tahu siapa korban selanjutnya. Analisa yang diungkapkan di akhir buku, benar-benar mencengangkan. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa “orang yang tepat” adalah orang yang justru tidak pernah aku curigai. Ia cerdas, motifnya pun sangat sederhana, tapi mengerikan!

Kisah thriller-detektif ini tentunya diberi sedikit bumbu romansa antara Sophia dan Charles, sehingga tidak melulu pusing dan tegang saat membaca. Endingnya menurutku terburu-buru. Yah, tapi aku sangat puas setelah menuntaskan misteri keluarga Leonides. Lega rasanya. Mengutip kata Sophia bahwa yang terbaik adalah yang telah terjadi.

Btw.. Covernya keren, simpel dan sangat menggambarkan cerita novel ini. Terjemahannya juga baik dan enak dibaca.  Novel ini adalah novel yang berkesan, salah satu karya Agatha Christie favoritku.

“Karena beginilah mimpi buruk. Berjalan diantara orang-orang yang kita kenal, memandangi wajah mereka, dan tiba-tiba saja wajah itu berubah –bukan orang yang kita kenal lagi –wajah seorang asing yang kejam...” –halaman 258