Review Novel : Rewrite

08.52


Rewrite

Penulis                 : Dirsta Alifia
Edtor                     : Pradita Seti Rahayu
Penerbit              : Elex Media Computindo
Tebal Buku          : 249 Halaman
Tahun Terbit      : 2016


Sejauh apa pun aku menghindar, ternyata, langkah-langkahku selalu terarah kepadamu.

Saras Widjaya, seorang perempuan yang harga dirinya lebih tinggi dari langit ketujuh, berusaha menepis segala rindu yang ia punya pada sang mantan kekasih
Gilang Ranggala, yang pandai menerbangkan pesawat dan juga harapan Saras, tak pernah tidak menyesali perbuatannya satu tahun lalu. Emosi yang begitu meledak, juga kata-kata yang tak seharusnya ada, membuat hubungan yang sudah mereka bangun tiga tahun runtuh begitu saja.
Namun, sekuat apa pun Saras menyangkal, ia tetap tak bisa menghindari bayang-bayang Gilang. Sedalam apa pun Gilang menyesal, ia sudah kehabisan cara meyakinkan Saras.
Dalam diam, mereka berharap.
Semoga kisah ini dapat ditulis ulang dengan akhir yang paling baik untuk mereka berdua.
***

“Kadang, hidup itu lucu, ya? Kita bisa dengan akrab mengobrol dengan seseorang yang belum terlalu kita kenal, bersahabat dengan orang yang baru kita kenal selama satu bulan, mengagumi seseorang yang tidak pernah kita temui sebelumnya, namun mendadak canggung ketika mengobrol dengan orang yang berstatus mantan. Padahal sebelumnya, orang itulah bagian terpenting dari hidup  kita. Seolah kita tak bisa hidup tanpa dia.” –halaman 26

Saras bertemu dengan Gilang di pesta pernikahan Gita. Melalui proses kenalan dan PDKT, akhirnya mereka jadian. Tiga tahun bersama nyatanya hubungan asmara mereka kandas karena emosi sesaat. Ketika mereka bertemu kembali, baik Saras maupun Gilang masih tidak bisa menyembunyikan perasaan mereka. Namun, luka dan perasaan bersalah terlanjur membuat mereka merasa menjadi orang asing. Apakah kisah yang ingin mereka tulis kembali akan berakhir sama seperti akhir kisah sebelumnya atau justru sebaliknya?

Salah satu novel based on wattpad yang jadi favoritku! Mungkin udah banyak yang baca cerita ini di wattpad dengan judul Immortal, tapi aku baru baca versi cetaknya dengan judul Rewrite. Rewrite atau menulis kembali adalah cerita cinta Saras-Gilang, mantan pasangan sukses bikin aku ikutan bimbang hihii.. Gimana nggak bimbang kalau ketemu lagi sama mantan yang masih disayang? Tentunya menghadirkan berbagai perasaan yang bikin bimbang dong, ya. Antara berharap tapi juga nggak berharap.

“Hal terburuk dari suatu pengharapan yang tinggi adalah, ketika harapan itu tidak tercapai, sang pemimpi hanya akan bisa terjatuh tanpa bisa kembali utuh.” –halaman 83

Walau dari segi tema sih klasik banget ya. Putus sama pacar, masih saling cinta tapi banyak hal yang membuat mereka enggan untuk kembali bersama. Pertemuan kembali membuat Saras-Gilang bernostalgia dengan perasaan yang pernah dan mungkin masih mereka miliki hingga saat ini. Meskipun klasik, aku salut karena penulis berhasil meramunya dengan apik. Gaya berceritanya yang asyik, buat aku betah membaca sampai nggak terasa udah hampir habis. Kalau di novel cetaknya, ada tambahan bonus part di akhir cerita, lho!

Di awal-awal cerita banyak menggunakan alur maju mundur yang agak membingungkan, Saras dan Gilang bergiliran bercerita tentang bagaimana pertemuan mereka, PDKT, jadian hingga akhirnya putus. Tentunya banyak nyeseknya sih. Karena diceritakan dari dua sudut pandang secara bergantian, membuat pembaca novel ini seolah sedang mendengar curahan hati mereka berdua. Kadang gemes sih dengan sikap mereka yang kadang mbulet wkwk..

Meskipun ending dan beberapa kejadian yang terjadi bisa ketebak, aku tetap melanjutkan membaca novel ini karena penasaran dengan kejutan apa yang akan diberikan oleh penulis. Mungkin banyak hal yang masih perlu di eksplor seperti keberadaan tokoh Ardi, yang kurang kuat sehingga menurutku keberadaannya pun tidak terlalu memicu konflik. Tentang Gilang, karirnya sebagai seorang pilot senior menurutku eksekusinya agak ‘kurang ngena’. Tapi untungnya menjelang akhir jadi tertolong, terbukti penulis melakukan berbagai riset tentang dunia penerbangan. Jadi nambah pengetahuan dan kekaguman sama pilot!

Penggambaran karakternya juga sangat manusiawi, nggak terlalu berlebihan. Kerasa banget sebelnya Saras pas ditanyain kapan nikah saat usia udah ‘rawan’, gimana rasanya menyimpan rindu  tapi nggak bisa mengungkapkan,  dan gimana galaunya saat berusaha meyakinkan seseorang yang kita cinta.

Tokoh Gilang menurutku sangat loveable banget. Aku suka cara Gilang memanggil nama Saras bukan dengan “Sar” atau “Ras”. Alasannya pun membuatku ikut tersipu. Kapten bisa banget deh gombalnya.  Sisain satu yang kayak Kapten dong! Hihihi..

Novel ini, aku rekomendasikan pada mereka yang percaya pada kesempatan kedua. Pada mereka yang benar-benar ingin memperbaiki hubungan dan menjemput kebahagiaan bersama orang yang sangat mereka harapkan.

“Salahku yang terlalu lemah terhadap kamu atau salahmu yang terlalu menarik di mataku?” –halaman 147

Review Novel : Titik Temu

10.08

Titik Temu

Penulis                         : Ghyna Amanda
Penyunting                  : Amanatia Yunda
Pemeriksa Aksara        : Yamadipati Sena
Perancang Sampul       : Wawan Sulthon FA
Penata Isi                    : Azka Maula
Tahun Terbit                : 2017
Tebal Buku                  : 276 halaman
Penerbit                       : Mojok



Kemerdekaan Republik Indonesia memberikan harapan baru bagi kebanyakan orang, tetapi tidak bagi Katheljin Sophie, putri keluarga kaya berkebangsaan Belanda. Peristiwa itu justru membuatnya terjebak dalam kondisi sulit. Ancaman pengambilalihan aset milik keluarga dan dipulangkan ke negeri Belanda mengintai di depan mata. Sedangkan ibunya, satu-satu keluarga yang tersisa meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan.

Pilihan bertahan di Indonesia membuatnya harus bersiasat, yakni menikah dengan dokter Andjana Ranggawangsa, seorang pribumi yang 20 tahun lebih tua dari dirinya, berhutang budi kepada keluarganya,dan sedang membutuhkan bantuan untuk membangun klinik.

Novel ini mengajak Anda menyelami makna kehidupan secara lebih mendalam, bahwa memang ada keinginan-keinginan yang tidak tergapai, serta menggiring ke dalam keadaan yang kita hindari. Meski demikian, keputusan perlu diambil dan dijalani dengan keteguhan hati
***
“Ia mencintai tanah ini seperti pribumi yang kini bebas mengibarkan bendera mereka. Sophie tidak perduli siapa yang berkuasa, ia hanya ingin tinggal disini selamanya, bersama ayah dan kakek juga kakak-kakaknya yang dikuburkan dekat dengan mereka. Tidak bolehkah seorang Belanda berteman dengan pribumi?" -hlmn. 5

Namanya Katheljin Sophie Kuhlan. Ia anak bungsu dari keluarga Kuhlan. Saat ini, ia tinggal hanya bersama ibunya, Nyonya Wilhelmina. Meskipun keturunan Belanda, keluarga mereka sangat disegani oleh penduduk di daerah perkebunan teh Malabar. Harold dan Heindrick Kuhlan, ayah dan kakek Sophie berjasa membuat dam yang memberi keuntungan bagi warga sekitar. Mereka hidup damai hingga proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan. Meskipun begitu, masih banyak terjadi pergerakan-pergerakan yang berupaya untuk merebut kembali apa yang diambil oleh penjajah. 

Andjana Ranggawangsa. Laki-laki cerdas dari keluarga sederhana itu menjadi salah satu yang beruntung mendapat kesempatan belajar ilmu kedokteran dan disekolahkan ke Belanda oleh keluarga Kuhlan. Ketika ia kembali ke Indonesia satu tahun setelah kemerdekaan, ia kembali menyaksikan bahwa negaranya masih bergolak. Bangsa Indonesia ingin sepenuhnya merdeka.

Meski dijaga dengan ketat oleh keluarganya, nyatanya Sophie pun lengah! Ia lupa bahwa keberadaannya terancam sekarang. Para pribumi ingin balas dendam dan merebut kembali hak milik mereka. Kejadian demi kejadian terjadi, Sophie diculik oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Meskipun akhirnya nyawanya selamat atas bantuan Dokter Andjana. Ia harus kembali mengalami kejadian pahit, rumahnya kebakaran dan ibunya, satu-satunya keluarga yg ia miliki meninggal dalam insiden itu.

Gagasan tentang menikahi seorang pribumi pun ditanggapi serius oleh Sophie. Gadis berusia 17 tahun itu melamar Dokter Andjana Ranggawangsa, lelaki yang berbeda usia 20 tahun dengannya untuk menjadi suami. Tentu dengan kesepakatan dan harapan agar Sophie diterima sebagai seorang pribumi. Ternyata tidak sampai disitu, kehidupan Sophie dan Andjana kembali mendapat ujian. Ketika kesalahpahaman membuat emosi tersulut, ketika dendam yang lama dipendam membuat seseorang gelap mata bahkan kepada orang terdekatnya..
***

Novel ini adalah novel kedua kak Ghyna yang aku baca. Sebelumnya aku udah pernah baca novel teenlit kak Ghyna yang berjudul God.Speed. Aku suka, novel itu juga berkesan banget. Kayaknya kalo kak Ghyna nulis novel tema apa aja, langsung jadi favorit aku deh!

Setelah menamatkan buku ini, aku speechless! Novel ini bisa dikatakan agak 'berat' tapi keren. Saking serunya baca, sampai bingung mau share apa wkwk.. iya, seru banget sampai nggak bisa berhenti sampai tamat. Kisahnya terasa sungguhan, begitu hidup. Baca kisah berlatar sejarah tapi tidak membosankan. Temanya nggak biasa. Mengambil setting di daerah Bandung dengan kehidupan setelah kemerdekaan dimana pergolakan dan keinginan untuk merdeka sepenuhnya masih membara.

Awal-awal emang alurnya agak lambat trus disuguhkan konflik bertubi-tubi, emosinya ikutan naik turun pas baca. Kak Ghyna berhasil menuliskan kisah romance lain daripada yang lain. Salut! Menghadirkan kisah romance berlatar sejarah Indonesia. Romansa Sophie dan Andjana bagai pemanis saat getirnya kehidupan saat itu. Meski mereka pasangan beda usia, chemistry nya dapet. Aku suka dengan perubahan mereka meski pernikahan mereka yang tanpa cinta terasa canggung. Andjana dan Sophie lebih seperti ayah-anak. Kadang aku lupa kalau Andjana itu om duren wkwk.. Suka dengan cara Andjana melindungi Sophie. Suka juga dengan kejutan-kejutan yang diberikan Sophie pada Andjana. Ada part deg-degan, haru, sedih dan bahagia sampai bikin senyum-senyum sendiri. Bahasanya emang cukup baku, tapi aku nggak masalah dengan itu.

Endingnya pas. Keputusan yang terbaik bagi Sophie dan Andjana saat itu. Aku kurang puas sih sebenernya, masih banyak hal yang bisa dieksplor. Banyak pertanyaan yang belum terjawab misal tentang nasib Andjana setelah perjanjian itu. Bagaimana dengan Arya, terutama pada Sophie. Semoga di novel sekuelnya bisa tau kisah lengkapnya seperti apa. Oya.. pastikan kamu cukup dewasa untuk membaca novel ini ya! Aku kasih 4 bintang buat Titik Temu


"Bahwa mereka berada di tanah yang asing, bahwa sebesar apapun kebaikan yang mereka bagi, kesalahan akan selalu menjadi masalah besar mereka. Ada dendam di mata setiap orang yang menatap, bukan hanya sekedar keanehan. Mereka seperti pendosa, padahal entah apa yang dilakukannya." -hlmn. 192

Review Novel : Destiny

03.23

Destiny

Penulis             : Tegar Setiadi
Penyunting      : Aprilia Wirahma
Desain             : Dea Elysia Kristianto
Penata Letak   : Dias Aditya dan Aditya Ramadita
Ilustrasi Cover : Bella Ansori
Tebal Buku      : 195 Halaman
Tahun Terbit    : 2018
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer



Ravi Luvian, murid pindahan di sekolah Nayna.
Nayna Askana, gadis muda yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk membantu Ravi mengenal lingkungan sekolah selama beberapa hari. Sikap Ravi yang semaunya sendiri membuat Nayna membenci murid pindahan itu.

Namun siapa sangka, kehadiran Ravi justru menjadi awal munculnya petunjuk tentang kenyataan di masa lalu Nayna. Mereka berdua memiliki keterikatan melebihi dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Kenyataan yang justru harus terkuak ketika Nayna mulai bisa menerima kehadiran Ravi.

Kelak kau akan menyadari... bahwa semua yang terjadi dalam hidup memiliki keterkaitan.
Kelak kau akan menyadari.. bahwa kehilangan adalah sebuah awal menemukan kembali..
Kelak kau akan menyadari.. saat takdir sudah menunjukkan jalannya
***

"Ini adalah jalan hidup dan takdir Tuhan. Siapa pun harus sadar, ketika ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Ketika kehilangan, tentu ada pengembalian atau pergantian." -hlmn. 152

Nayna pertama kali bertemu dengan Ravi di sekolahnya. Ravi Luvian adalah seorang murid pindahan dari Surabaya. Nayna diberikan tugas oleh kepala sekolah untuk jadi 'guide' Ravi di sekolah selama beberapa hari. First impression Ravi sih sama seperti kebanyakan cowok di sekolahnya, bad boy dan penampilannya kurang rapi. Sikapnya pun menyebalkan. Benar-benar memberikan kesan pertama yang sama sekali tidak mengesankan bagi Nayna. Sementara, Ravi menilai sosok Nayna sebagai gadis yang pemberani, galak dan jutek. Entah mengapa, ia merasa tertarik dan penasaran. Ia pun berusaha mendekati Nayna.

Dibalik sosok Nayna yang terkenal cerdas dan populer di sekolah. Ia ternyata sangat tertutup tentang keluarganya. Sejak perceraian kedua orang tuanya, Nayna tinggal bersama Fidelis, adiknya yang berkebutuhan khusus dan Mbok Win yang mengasuh mereka berdua. Ayahnya sering bersikap kasar, jarang pulang dan tidak perduli dg mereka. Sementara sang ibu telah menikah lagi dan tinggal di luar negeri. Fidelis menderita autistic disorder dan pyromania. Tentu berat bagi Nayna yang harus ekstra sabar menghadapi dan mendidik adiknya. Meskipun begitu, Nayna sangat menyayangi Fidelis.

Selain menghadirkan konflik dalam keluarga, novel ini juga menghadirkan konflik dalam persahabatan. Persaingan dan dendam sering sekali memicu konflik antar sahabat di sekolah. Nayna juga mengalami hal itu. Satu per satu kebenaran mulai terungkap. Ketika mantan temannya dan 'teman palsu'-nya bersatu menyerang, Nayna malah mulai mempercayai Ravi. Hubungan keduanya menjadi semakin dekat, apalagi setelah Nayna mengalami musibah. Nayna tidak lagi bersikap ketus pada Ravi. Seperti awal pertemuan mereka. Kedekatan keduanya justru mengungkap satu fakta yang tidak pernah disangka oleh Nayna dan Ravi sebelumnya. Sesuatu di masa lalu mereka berdua..

***

Seperti judulnya Destiny atau Takdir, Nayna dan Ravi seolah telah ditakdirkan untuk kembali bertemu. Meski keduanya saling tidak mengenal, tapi keduanya menemukan 'jalan' yang menuntun mereka memahami masa lalu mereka. Sejak baca prolog, aku sudah menebak alur ceritanya. Meskipun akhirnya sesuai dengan prediksiku, tapi aku tetap menikmati saat membaca. Upaya untuk menguak serta menemukan masa lalu Nayna dan Ravi menurutku eksekusinya masih kurang. Tapi endingnya ugh! banget. Bahagia tapi sejujurnya sedih juga

Satu lagi, novel yang menghadirkan sosok 'anak baru' yang menjadi fokus utama sebuah cerita. Sepertinya anak pindahan di sekolah menjadi sosok yang sangat menarik, ya. Kehadiran mereka memberikan suasana baru di sekolah. Tentunya banyak dong yang penasaran sama anak baru, apalagi kalo good looking seperti Ravi wkwk.. Setting ceritanya kebanyakan di sekolah, pada masa-masa SMA. Penggambarannya pas banget. Bagi yang udah lulus SMA, berasa lagu aca novel ini kembali membawaku bernostalgia. Aku juga mengalami seperti Nayna dan Ravi. Menjalani berbagai rutinitas sekolah dan ujian. Seru-seruan bareng teman, ketemu sosok yang menyebalkan dan tentunya tertarik dengan lawan jenis 

Salut dengan penulis yang berhasil menghadirkan konflik yang cukup rumit, baik dari keluarga maupun persahabatan. Eksekusinya juga pas, nggak berlebihan. Penulis juga menyelipkan isu sosial tentang masyarakat yang kurang 'ramah' terhadap mereka yg berkebutuhan khusus melalui pengucilan. Tentu ini jadi perhatian bagi kita semua. Meskipun ia berbeda, tapi hendaknya kita tetap memperlakukannya dengan baik. Selain itu, masih sering kita temui diskriminasi di masyarakat dengan mengucilkan mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti Fidelis. Nggak jarang banyak juga yang nge-bully mereka karena kondisi tersebut. Konflik keluarga berujung perceraian sering kali mengorbankan perasaan anak-anak. Terlebih jika usia mereka masih sangat belia. Perceraian memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis anak.

Kalau lagi nyari bacaan genre young adult yang ringan, boleh nih baca novel ini. Kita jadi belajar lebih bersyukur dan tentunya memahami bahwa tidak semua orang membawa pengaruh yang baik bagimu. Orang yang menuntunmu kearah kebaikan adalah orang yang tepat berada di sisimu.


"Bagaimana ini bisa terjadi pada kita? Tuhan sangat tidak adil. Bahkan tak seorangpun dapat mengerti apa yang kita rasakan saat ini. Tetapi aku berpikir lagi, Tuhan menyatukan kita dengan cara ini, supaya kita benar-benar bersama" -hlmn. 193


Review Novel : Melbourne (Wedding) Marathon

08.30


Melbourne (Wedding) Marathon


Penulis               : Almira Bastari
Editor                 : Cicilia Prima
Desain Cover     : Dhynda Hanjani P
Penata Isi            : Putri Widia Novita
Penerbit              : Grasindo
Tahun Terbit       : 2017
Tebal Buku         : 218 halaman



Sydey Deyanira
Wanita cerdas, mandiri, ambisius dan perfeksionis. Sydney merasa patah hati ketika sahabat yang ia kencani selama satu semester terakhir memilih berpacaran dengan orang lain. Dijuluki sebagai ahli percintaan prematur, Sydney mulai berpikir untuk melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menjalin hubungan palsu dengan orang baru.

Anantha Daniswara
Pria sukses, arogan, suka bergonta-ganti pasangan naun masih belum berdamai dengan masa lalunya, Anantha nekat meminta pelayannya sendiri untuk menjadi kekasihnya.
Melbourne bukan kota cinta dan jauh dari kata romantis. Sebagai kota yang paling nyaman ditinggali di dunia, Melbourne menjadi awal baru bagi dua insan  yang tertekan dengan rentetan pesta pernikahan!
***

Ini pertama kalinya berkenalan dengan tulisannya mbak Almira. Aku langsung suka dengan gaya ceritanya yang asyik banget. Banyak yang merekomendasikan novel ini. Aku suka dengan novel bertema pernikahan, karena selalu ada kisah menarik. Selain itu, penasaran juga karena novel Resign booming banget!. Itu lho, si kuning yang lagi diomongin dimana-mana gara-gara si cungpret. Karena tema keduanya beda banget, jadi semakin tertarik. Kebetulan belum baca Resign juga sih. Semoga segera bisa mewujudkan wishlist ini! Oke, here the review!

“Smart woman finds love harder.” –Chapter 12, halaman 97

Tidak ada yang salah dengan sosok Sydney Deyanira. Ia gadis yang cantik, pintar, friendly dan punya pendirian. Kehidupan percintaannya memang tidak semulus kehidupan perkuliahannya, karena para cowok-cowok yang mendekati Sydney terlalu minder untuk bersanding dengan sosok Sydney. Bahkan Rafka, sahabat sekaligus cowok yang ditaksir oleh Sydney mengatakan bahwa ia terlalu menunjukkan kelebihannya sehingga para lelaki merasa ‘kalah saing’. Kayaknya ini jadi problem banyak wanita yang sukses dengan karier cemerlang dan pencapaian tinggi ya?

“Harusnya orang-orang yang terlalu sempurna itu punya label di kepala sehingga kita tidak perlu jatuh cinta pada mereka dari awal.” –Chapter 19, halaman 156

Mengutip kata Sydney, Anantha Daniswara bukan hanya too good to be true melainkan waaay too good to be true. Sosok pria dewasa, tampan dan kaya raya. Siapa sih yang nggak mau jadi temen date-nya? Ananta bak pangeran yang muncul dari negeri dongeng, dan sangat didambakan oleh rakyat jelata yang sayangnya bukan Cinderella. Jadi, udah siap-siap kecewa bahkan sebelum mulai mendekatinya hahaha.. tapi aku suka dengan karakter Ananta, sosok alfa male yang pengertian. Ia tetap manusia biasa yang punya kekurangan dan dark side dalam dirinya

 “Melbourne itu moody, sebentar panas, sebentar dingin atau hujan dan merusak segalanya. Di balik fenomena itu, nyatanya bisa mempertemukan dua orng asing yang tidak saling mengenal..”-halaman 109

Diceritakan dengan POV 3, dengan alur maju yang cukup padat sehingga terkesan terburu-buru. Premisnya sederhana, tapi eksekusinya cukup kena. Novel ini hadir membawa keresahan para jomblowan dan jomblowati diusia 20-an yang masih aja sendirian. Tidak punya pasangan atau sahabat yang bisa diandalkan untuk menemani saat datang ke nikahan. Sementara jumlah undangan yang datang, makin lama makin banyak aja. Wedding Marathon, seolah pernikahan adalah ajang perlombaan, padahal pernikahan adalah tentang pilihan dan kesiapan. Banyak yang bilang, usia itu sudah pas untuk berumah tangga, tapi nggak sedikit masih berjuang demi cita-cita dan karier atau belum menemukan seseorang yang cocok.

Begitu pula dengan Ananta dan Sydney. Ananta perlu pembuktian bahwa ia baik-baik saja setelah ditinggal sang mantan yang dipacarinya selama 12 tahun. Sementara Sydney, ingin mencoba memiliki seorang pacar setelah gagal PDKT dengan 7 orang lelaki, termasuk sahabatnya sendiri. Perjanjian pun dibuat. Sydney dan Ananta menjalin hubungan palsu yang rawan melibatkan perasaan. Ananta meminta Sydney menemaninya ke seretetan undangan pernikahan.

Kehidupan Ananta menjadi lebih spontan dan berwarna dengan kehadiran Sydney. Sosok alfa male seperti Ananta mampu mengimbangi Sydney yang keras kepala. Hubungan mereka berdua cheesy-chessy gemes gitu. Persis seperti remaja yang lagi kasmaran. Meskipun menurutku chemstry-nya dibangun dengan cepat, tapi interaksi mereka dapet! Aku suka gimana Ananta jadi tergantung dengan Sydney, berkedok hubungan palsu mereka dan gimana Sydney diam-diam terbawa perasaan dan menikmati hubungan yang ia idam-idamkan.

Soal karakter, semuanya digambarkan dengan sangat baik. Perbedaan status sosial yang sering kita temui juga relate banget. Gimana ribetnya hidup orang kaya, gimana kerasnya hidup dengan persaingan buat jadi yang paling up to date. Nggak heran kalau banyak bertebaran nama brand ternama yang asing bagiku wkwk..

Untuk setting udah nggak diragukan lagi. Saat membaca, aku seolah-olah sedang berada di Melbourne. Deskripsinya jelas dan detail, ditambah dengan bucket list yang dibuat Sydney membuat tour di Melbourne. Pengalaman penulis tinggal di Melbourne membuat setting novel ini sangat kuat.   Aku baca novel edisi pertama yang belum direvisi, jadi masih banyak typo dan kesalahan penulisan nama. Di edisi revisi kemungkinan sudah bersih dari kesalahan penulisan.

Aku puas dengan endingnya. Meskipun perlu waktu dan ekstra kesabaran, tapi nyatanya yang diharapkan akan datang pada saat yang tepat. Jangan pernah berhenti untuk berdoa, berusaha dan terus menerus meningkatkan kualitas diri.

 “What belong to you will find a way back to you” – halaman 205

Review Novel : Welcome Home, Rain

20.23


WELCOME HOME, RAIN

Penulis               : Suarcani
Penyunting         : Midya N.Santi
Perancang Sampul : IG @sukutangan
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku        : 304 halaman
Tahun Terbit      : 2017



“Kamu tahu apa bedanya mimpi dan ambisi, Ghi?”

Ghi tidak mau lagi menyanyikan Welcome Home, Rain. Lagu duet ciptaan Kei. Sejak pemuda itu memergoki Kei keluar dari kamar hotel dngan bos perusahaan rekaman terkenal, ia tidak mau berhubungan dengan segala hal tentang gadis yang menjadi kekasih sekaligus pasangan duetnya. Toh, job menyanyi masih mengalir deras untuk Ghi yang sudah lebih dulu tenar dan dipuja banyak orang.

Bagi Kei, skandal itu menutup pintu mimpinya. Bermain piano dan menyanyi tidak lagi dapat dilakukan tanpa menghadirkan perih di hati. Bahkan omelan Mama yang setiap hari mengisi hari-hari mereka dalam kemiskinan setelah Papa bunuh diri tak mampu memaksanya kembali ke dunia musik.

Hingga tawaran duet di panggung pada hari Valentine tiba. Baik Ghi ataupun Kei tidak dapat mengelak. Ghi butuh membuktikan kepada fans dan haters yang mengejeknya cengeng karena belum bisa move on. Kei butuh yang untuk melunasi utang Mama yang tak sanggup lepas dari hidup mewah.

Dengan kembali berduet di panggung, mereka merusaha memahami arti mimpi dan ambisi yang sesungguhnya.
***

“Mimpi, kamu yang mengejar. Sementara ambisi, kamu yang dikejar. Mimpi, cita-cita.. itu tidak akan pernah lenyap, bisa kita gapai kapanpun kita mau selama kita berusaha. Tidak peduli hari ini, besok, ataupun lusa. Mimpi juga tidak akan membuatku berkorban secara ekstrem, tidak pula membuatku kehilanngan hal-hal yang sangat berarti selama aku mengejarnya.” –halaman 234

Ini kedua kalinya aku membaca tulisan Mbak Suarcani. Setelah sebelumnya disuguhkan dengan kisah romance dengan bumbu fantasi, di novel The Stardust Catcher, kali ini aku diajak untuk membaca kisah genre Young Adult yang lain. Ceritanya lebih kompleks. Tidak hanya tentang cinta dan mengejar mimpi, tetapi juga menghadirkan konflik keluarga dan persahabatan. Novel ini diitulis dengan POV3, dengan alur maju mundur.  Penulisannya rapi, dan page turner banget.


Pengembangan karakternya juga sangat baik. Kei, sosok yang tegar sekaligus rapuh. Ghi yang luar biasa keras kepala dan kekanakan. Emosi yang meledak-ledak khas anak muda, disampaikan dengan apik. Keliatan banget gimana jealous-nya pas ketahuan diselingkuhin, atau gimana bencinya pas ketemu sama mantan padahal sama-sama masih sayang *eh*. Dinamika kehidupan anak-anak dewasa muda dalam pencarian jati diri, keinginan mendapat pengakuan atas dirinya, pergulatan dengan dunia yang ternyata keras juga aku dapatkan pada novel ini. Kehadiran tokoh-tokoh lainnya juga dapat porsi yang pas untuk membentuk alur menjadi lebih menarik. Klimaksnya konfliknya dapet!

“Sebagai orang yang paling dekat dengan kamu, harusnya aku nggak emosi. Sungguh, kejadian itu bikin shock. Aku terlanjur cemburu, sehingga sama sekali nggak bisa bedain mana yang seharusnya aku percaya dan tidak. Aku.. aku sungguh merasa bersalah. Aku menyesal..”-halaman 279

Saat membaca kisah Ghi-Kei, aku terbayang dengan sosok Ajun Perwira dan Agatha Chelsea. Menurutku, mereka berdua sangat mewakili Ghi dan Kei di kehidupan nyata. Persamaan background, karir dan kemampuannya dalam bermusik, membuat aku membayangkan mereka bermain peran dalam imajinasiku saat membaca. Kalau kamu gimana? Ngebayangin siapa pas baca novel ini?

“Mungkin karena piano seperti hujan. Mereka bisa menghasilkan polifoni. Piano bisa memainkan ritmis dan melodi secara bersama-sama. Coba bayangkan hujan tanpa suara rintiknya saat menimpa genteng atau daun, tanpa desah anginnya, tanpa derunya? Menurutmu suaranya akan indah seperti yang kita dengar sekarang?” –halaman 74

Kombinasi musik dan hujan menurutku sangat pas. Hujan membawa kesan yang syahdu. Kecintaan Kei pada piano ditunjukkan melalui permainan sekaligus pengetahuan alat musik tersebut. Riset tentang musik, utamanya alat musik piano juga disampaikan dengan sangat baik. Aku yang hanya menikmati musik tanpa memahami musik sesungguhnya, setidaknya dapat ilmu setelah baca novel ini.

Aku senang, Mbak Suarcani tidak menghilangkan ciri khasnya untuk menyelipkan kearifan lokal Bali dalam setiap novelnya. Kalau di novel The Stardust Catcher, beberapa wilayah di Bali akan jadi tempat setting cerita, tapi di novel ini dikisahkan sosok Ghi yang bernama asli Dewa Ketut, seorang anak dari keluarga kasta Ksatria atau Brahmana, di Bali. Hal ini juga disampaikan melalui catatan pada footnote. Semoga di novel selanjutnya, lebih banyak hal menarik tentang Bali yang disampaikan.  

“Kala langit tak mampu menahan, mentari tidak cukup hangat menyentuh, kamu turun menghapus debu, menyapaku dalam deru. Welcome home, Rain.” –halaman 299
PS. Aku benar-benar nungguin album kolaborasi Ghi dan Kei!

Review Novel : Aku Tanpamu

02.28


Aku Tanpamu

Penulis             : Rudy Efendy
Penyunting      : Agatha Tristanti
Penyelaras      : Mursyidah
Penata Letak   : Amanda MT Castilani
Desain Cover   : Maretta Gunawan
Penerbit          : Bhuana Ilmu Populer
Tahun Terbit   : 2013
Tebal Buku      : 458 halaman



Ketika seorang pemuda tiba-tiba muncul dalam hidupnya dan menghancurkan semua impiannya, apakah yang akan dilakukan seorang gadis seperti Saskia?
Ketika semua orang yang ia cintai direnggut darinya,, apakah ia akan meratapi nasib dan kesendiriannya? Ketika cinta justru membuatnya terluka dan menangis, masihkah ia memercayai cinta dan membuka hatinya untuk cinta?
Haruskah ia menyerah? Masihkah ada setitik cahaya yang akan memberi harapan baru? Ataukah ia justru kian terpuruk menjalani aib yang akan menoreh sepanjang hidupnya?
***

Perempuan itu adalah Saskia. Ibunya pergi meninggalkan ia dan Ayahnya dua tahun yang lalu, saat bisnis Ayahnya gulung tikar. Tak lama kemudian ayahnya meninggal karena sakit. Saskia yang malang dan hidup tanpa kedua orangtuanya,  akhirnya tinggal dengan keluarga Om-nya.  Selain Om Hadian, Ia juga tinggal dengan Tante Lastri dan Alena, saudara sepupunya. Tante Lastri dan Alena tampak tidak terlalu menyukai keberadaan Saskia di rumah mereka. Terlihat dari sikap Tante Lastri yang selalu meminta Saskia membantunya di restoran yang mereka kelola, dan Alena yang selalu iri dan berusaha merebut apapun yang dimiliki Saskia.

Di kampus, Saskia berkenalan dengan seorang cowok bernama Davian. Sejak keduanya sering bertemu di kelas yang sama di kampus, hubungan mereka semakin dekat. Namun kedekatan mereka berjalan begitu saja tanpa status yang jelas. Padahal Saskia dan Davian saling menunjukkan ketertarikan. Hubungan mereka semakin rumit saat Alena mengenal Davian. Alena secara terang-terangan mengatakan pada Saskia bahwa ia menyukai Davian dan menginginkan lelaki itu! Status hubungannya dengan Davian yang tidak jelas membuat Saskia semakin bimbang. Satu sisi, ia jelas tidak memiliki hak untuk melarang Alena. Namun dirinya yang lain juga tidak bisa merelakan Davian bersama wanita lain.

Setelah mendapat berbagai tekanan,  apakah Saskia bisa benar-benar merelakan Davian untuk Alena? Apakah setelah itu apakah ia masih percaya pada cinta saat Zidan, anak teman ayah Saskia mendekatinya? Masih adakah kesempatan bagi Saskia untuk berbahagia? Bisakah ia mencintai dan dicintai seperti harapannya?
***

“Namun, pilihan selalu ada : Melangkah ke depan atau terus menerus menyesali apa yang terjadi.” –hlmn 205

Novel ini lebih dari yang aku bayangkan. Sejak bab-bab awal, pembaca akan diajak mengenal Saskia dan kehidupannya. Diceritakan dari POV 3, pada bab awal alurnya agak lambat. Namun menjelang akhir, alurnya menjadi lebih cepat dan membuatku susah menjeda saat membaca. Tidak hanya konflik percintaan, penulis juga menghadirkan penyelesaian konflik keluarga Saskia. Penulis menghadirkan twist melalui tokoh Zidan serta ending yang tidak terduga. Meskipun begitu, menurutku ceritanya jadi cukup luas dan kurang fokus sehingga ada beberapa part cerita tidak jelas bagaimana kelanjutannya.

Penulis berhasil menghidupkan karakter tokoh-tokohnya. Sosok Saskia yang sangat tegar mengajarkanku tentang ketulusan dan pengorbanan, bahwa sedih dan bahagia akan datang bersama. Saskia melewati berbagai hal yang mendewasakan dirinya. Davian dan Zidan, kedua cowok ini buat aku geregetan karena sikapnya yang nggak tegas. Duh! Untuk tokoh antagonisnya, Alena, pada akhirnya aku tidak bisa membencinya karena menurutku setiap orang memiliki turning point dalam hidupnya. Kehadiran tokoh-tokoh lainnya juga berperan penting menghidupkan keseluruhan cerita. Nggak mau bahas tentang tokoh-tokohnya lebih banyak deh, takut spoiler wkwk..

Jangan kau sia-siakan lagi kesempatan berharga ini. Kau harus buktikan bahwa kau bisa bangkit  lagi dari keterpurukan. Aku yakin semua orang akan mendukungmu.” -hlmn 398

Novel ini menghadirkan sebuah kisah yang sangat menginspirasi. Saat baca novel ini, aku merasa sangat dekat dengan kehidupan Saskia. Hal yang dialaminya sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, mungkin melalui orang-orang yang dekat dengan kita. Salut banget dengan Saskia yang begitu tegar dan kuat dalam menjalani berbagai cobaan yang datang di hidupnya. Kegigihan, kesabaran dan keikhlasan akan membawa kita pada hal yang baik pada akhirnya. Percayalah.. jika saat ini kehidupan sedang kejam padamu suatu saat ia akan mendukungmu mewujudkan berbagai harapan yang selalu kau panjatkan. Harapan tentang apapun, tidak terkecuali percintaan. Termasuk menemukan seseorang yang tidak pernah kau bayangkan untuk mendampingimu.

 “Meski aku sudah mengatakan pada diriku sendiri, sekalipun kau menolakku, aku akan tetap menunggumu dengan setia. Sampai hatimu mau menerima diriku seutuhnya.” –hlmn. 458


Review Novel : A Very Yuppy Wedding

01.25

A Very Yuppy Wedding

Penulis : Ika Natassa
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
Tahun Terbit : 2007 (Cetakan kesembilan Maret 2013)




It feels like it’s my Blackberry whp’s enganged with his Blackberry. Kalau kesibukan kami tetap seperti ini setelah menikah, bisa dipastikan we’ll be having technological intercourse a lot more than sexual intercourse.
-Andrea in A Very Yuppy Wedding

INGREDIENTS :
The life of a business banker is 24/7 dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti tangga karirt di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she ears them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So sheshould be smiling, right?

Tidak disaat dia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yan mencekik dan ancaman denda 500 juta jika iamelanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada yag bisa memaksanya tersenyum disaat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.
***

Mau posting review novel A Very Yuppy Wedding nih. Akhirnya kesampaian juga pinjem novel debutnya Ika Natassa di I-Jak dan udah selesai dibaca kemarin, bertepatan sama pernikahan Kahiyang-Bobby.  Jadi disajikan selagi hangat hehe.. Kenapa jadi Kahiyang-Bobby? Ya, perbedaan suku bangsa membuat aku mengingat pasangan Andrea-Adjie. Moment pernikahan Kahiyang dan Bobby ini persis banget sama yang akan dijalani oleh Andrea Natasha Siregar dan Adjie Soerjosoemarno. Bedanya, Andrea  yang berasal dari Medan, sedangkan Adjie yang keturunan Jawa. Pasangan dari beda suku bangsa ini diceritakan tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, lengkap dengan berbagai drama mulai dari pekerjaan calon pengantin, pilihan dan tuntutan dari keluarga, godaan dari orang-orang yang  berada di sekeliling keduanya bahkan konflik dari si pasangan calon pengantin itu sendiri!

“Pernikahan itu bukan cuma buat menghalalkan hubungan seks, Dre, tapi untuk menyatukan pandangan dan pemikiran, serta saling melengkapi.” –halaman 158

Sebelumnya, aku sudah membaca tiga novel Ika Natassa yaitu Antologi Rasa, Critical Eleven dan The Architecture of Love. Seperti novel Ika Natassa yang lainnya, novel ini menghadirkan garis besar yang serupa. Tokoh-tokohnya mengagumkan, punya background karier yang sukses, pasangan yang rupawan dan mapan serta gaya hidup serba mewah dengan deretan brand dan tempat nongki kece. Nggak ketinggalan, gaya cerita yang mengalir serta konflik percintaan yang complicated. Di novel A Very Yuppy Wedding ini, sayangnya aku agak kurang menikmati ceritanya. Konfliknya yang muncul serupa dan terasa agak berlebihan. Aku agak nggak sreg sama sikap kedua pasangan ini yang agak childish di usia segitu sih. Tapi syukurnya masih ada yang mau ngalah, walaupun ya jatuhnya jadi agak drama.

Novel ini diceritakan dari POV 1 versi Andrea, jadi pembaca tidak bisa memahami bagaimana versi Adjie. Kesannya Andrea itu jadi sangat cemburuan dan childish. Tapi menurutku, ia juga tidak seegois itu, karena ia juga cukup banyak berkorban dan itu sangat worth it buat hubungannya dengan Adjie. Perempuan yang bersedia melakukan hal itu adalah perempuan yang hebat! Awalnya memang sangat romantis, Andrea dan Adjie itu perfect couple. Memasuki pertengahan buku, aku merasa alurnya jadi agak lambat dan greget lagi menjelang ending. Bapernya khas Ika Natassa banget deh pokoknya. Aku kadang nggak memahami jalan pikirannya Andrea yang kadang agak ekstrem.

Thanks to Tania dan Firman, beruntung banget Andrea dan Adjie punya temen yang super care dan bijak! Meskipun cerewet dan ceplas-ceplos kadang ocehan mereka lebih nusuk sekaligus mencerahkan. Keberadaan mereka menyelamatkan saat-saat rawan menjelang pernikahan Andrea dan Adjie. Pengen banget punya temen yang kayak gini!

“It’s funny how marriage can limit your possibilites, right?”
 –halaman 143

Dalam sebuah hubungan, yang diperlukan tidak hanya rasa cinta, tapi juga kerelaan untuk berbagi dan meredam ego masing-masing. Menyatukan dua kepala dalam ikatan pernikahan memang tidak mudah. Tapi ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang kalah ketika mengalah dalam hubungan, maka saat itulah kita berhasil membuat kebersamaan tidak hanya berharga tapi juga saling membuat bahagia.

“Bagaimana aku bisa tidak mencintai laki-laki yang mengatakan akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia, walaupun itu berarti merelakan aku pergi ke pelukan orang lain?” –Halaman 279