Review Novel : Wonderful Life

05.16

WONDERFUL LIFE

Penulis                         : Ninna Rosmina dan Pipit Setiafitri
Desainer Kover           : Dyndha Hanjani P.
Penata Isi                    : Yusuf Pramono
Penerbit                       : Grasindo
Tahun Terbit                : Agustus, 2015
Tebal Buku                  : 208 Halaman




Sheira tahu kalau ada sesuatu yang salah di dalam hubungan dirinya dengan Noah. Bukan karena jadwal pernikahan mereka yang terlalu cepat.
Bahkan mungkin walaupun dia sedikit tergopoh-gopoh untuk mengejar pria itu, dia menyukai pergerakan cepat yang kerap dilakukan oleh pria cuek, jail, seenak udelnya, keturunan India dan Melayu, Noah Harrys.
Tapi perjalanan cinta mereka tidaklah semulus jalan tol. Karena ternyata Noah memiliki dendam yang ingin dia lampiaskan pada Sheira.
Ah, Noah.. ketika kau akhirnya menyadari kalau hatimu benar-benar jatuh cinta pada gadis itu, semuanya sudah terlambat.
Hidup terlalu singkat dan cinta terlalu indah, kalau hanya untuk dilalui dengan rasa denndam yang ternyata merupakan kesalahpahaman.
***

Sheira Bellarosa pertama kali bertemu dengan Noah Harrys di bandara Soekarno Hatta, menjelang perjalanan tour ke New Zealand. Sheira adalah pemimpin rombongan dari Pandra Tour dan Noah adalah salah satu peserta rombongan yang menyebalkan. Pertemuan mereka jauh dari kata menyenangkan. Sheira dan Noah terlibat perselisihan hingga rombongan kembali ke tanah air.
Pertemuan selanjutnya, ternyata lebih mengejutkan! Sheira bertemu dengan Noah di kantornya. Bukan sebagai penumpang, tetapi sebagai rekan kerja dalam bidang traveling. Diluar dugaan, ternyata Noah juga memiliki perusahaan tour and travel, dan berencana untuk bekerjasama dengan perusahaan keluarga sekaligus tempat kerja Sheira. Sejak saat itulah keduanya menjadi dekat.
***

Traveling dan balas dendam. Dua kata ini menjadi premis novel Wonderful Life, duet Ninna Rosmina dan Pipit Setiafitri. Kegemaran penulis yang sama-sama menyukai traveling membuat novel ini menarik. Novel ini tidak menyuguhkan tentang tempat-tempat wisata secara mendetail, tapi lebih menekankan pada kegiatan yang berlangsung di perusahaan tour and travel. Jadi dapat informasi baru tentang dunia yang dilakoni para pelaku wisata ini.
Penulisan novel ini cukup rapi dan konsisten, bagus untuk novel yang ditulis lebih dari satu orang. Novel ini diceritakan dengan konsep telling story melalui POV3. Penggambaran tokoh-tokohnya juga sangat jelas. Aku mendapatkan ‘poin’ ketika membaca beberapa bab awal, dan mulai menerka-nerka jalan ceritanya. Meskipun sesuai dengan prediksiku, tapi aku cukup puas dengan alur ceritanya. Hanya saja masih kurang ‘nonjok’ pada beberapa part seperti saat Sheira ke Kuala Lumpur dan sesudahnya yang menurutku bisa membuat pembaca makin emosional.
Interaksi antara Sheira dan Noah bisa dibilang tidak intens, serba cepat tapi menurutku cukup bikin jealous. Sayangnya, tokoh Edwin dan Cathy yang potensial mendukung cerita, masih kurang di eksplor. Beberapa part juga buat senyum-senyum sendiri.  Tokoh favoritku ya Mr. Noah Harrys. Tipikal cowok yang unpredictable. Kalau lagi manis ya romantis banget. Kalau lagi cuek, emang bisa bikin badmood seketika. Gaya bicaranya yang nyampur-nyampur (Indonesia-Melayu-Inggris) juga jadi ciri khas yang nggak terlupakan!


“Tidak semua hubungan harus berjalan sesuai dengan kemauanmu. Dan tidak semua orang bisa berbuat atau bertindak sesuai dengan harapan kamu. Jadi biarkan saja mengalir apa adanya. Dalam berhubungan, jangan ada tekanan yang mungkin hanya akan membuatmu merasa stress dan tidak bebas.”

Review Novel : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

01.48

DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN


Penulis                                     : Tere Liye
Desain dan Ilustrasi Sampul   : eMTe
Penerbit                                   : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                            : 2010 (cetakan keduapuluh empat : April 2016)
Jumlah Halaman                      : 264 halaman

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona atau entahlah itu muncul dan tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun.. daun yang tidak pernah membenci angin meski harus teneggutkan dari tangkai pohonnya.
***

“Lihatlah pengamen kecil yang kakinya dulu tertusuk paku payung. Gadis yang menangis karena kakinya berdarah! Lihatlah! Dunia seharusnya belajar banyak darinya.”
-halaman 129

Sepeninggal ayah tiga tahun lalu, keluarga Tania mengalami keterpurukan. Ibu, Tania dan Dede menjalani kehidupan yang sangat berat. Mereka berusaha untuk bertahan hidup, dengan uang seadanya di sebuah rumah kardus. Tania yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar terpaksa berhenti sekolah dan membantu ibunya mencari uang dengan mengamen bersama adiknya.

Namun kehidupan tidak selamanya buruk. Suatu hari, Tania bertemu dengan seorang ‘malaikat’ ketika sedang mengamen dalam bus kota. Dia seorang laki-laki muda, berusia sekitar 25 tahun yang sama seperti kebanyakan penumpang bus malam itu -pekerja kantoran yang tampak sangat lelah. Satu-satunya penumpang yang peduli ketika Tania  terluka karena terkena tusukan paku payung. Dia, orang yang akhirnya menjadi bagian keluarga Tania dan memberikan pengaruh besar bagi kehidupan mereka. Bahkan ketika ibu mereka menyusul sang ayah ke surga, Tania dan Dede tetap melanjutkan hidupnya dengan tegar bersama dengan Dia, melanjutkan hidup dengan bersemangat untuk masa depan yang lebih baik.

“Aku bukan daun! Dan aku tak pernah mau menjadi daun! Aku tak pernah menginginkan perasaan ini, kan? Dia datang begitu saja. Menelusuk hatiku. Tumbuh pelan-pelan seperti kecambah disiram hujan. Aku sungguh tidak pernah menginginkan semua perasaan ini.”
-halaman 154

Dia hadir sebagai sosok Ayah, kakak yang telah lama dirindukan oleh Tania. Saat itu ia memang masih sebelas tahun dan laki-laki itu dua puluh lima tahun, ia tidak mengerti tentang perasaannya. Tapi makin lama, Tania semakin tidak bisa mengendalikannya. Perasaan terlarang yang seharusnya tidak ia miliki terhadap Dia.
***

Novel ini lebih dari sekedar kisah cinta yang tidak biasa. Kisah yang dekat dengan kehidupan  dan memberikan pelajaran bermakna, khas Tere Liye. Sangat menginspirasi utamanya bagi yang merasa kurang beruntung untuk selalu bersemangat, tidak pernah putus asa dan melakukan yang terbaik demi dirinya, keluarga dan masa depannya. Soal pemilihan diksi, penyampaikan makna sesuatu secara filosofis, dan kemampuan menaik-turunkan emosi tidak usah diragukan lagi.

Penggunaan POV 1 dari sudut pandang Tania menurutku sangat berhasil, untuk seorang author laki-laki. Semua karakternya kuat dan membuatku merasa kagum dengan mereka. Tania yang tidak pernah menyerah dan selalu membanggakan. Dede yang tumbuh  menjadi bijak karena ditempa oleh kehidupan. Danar dengan kemurahan hatinya dan Ratna yang sangat tegar menghadapi semuanya.

Bersetting di sebuah toko buku, novel ini menggunakan alur maju mundur. Perpindahan masa lalu dan masa sekarang diceritakan dengan sangat smooth, seringnya tidak disadari bahwa pembaca diajak mengikuti jejak kehidupan tokohnya dalam rentang waktu yang cukup panjang dengan perubahan-perubahan yang cepat. Banyak teka-teki muncul, hingga terjawab dengan ending yang tidak terduga.

Suka banget sama cara penulis untuk menyimpan ‘yang terbaik’ sebagai penutup. Juara deh! Mungkin banyak yang akan menyayangkan kisah ini. Tapi nyatanya kita memang tidak bisa membahagiakan semua orang dengan pilihan-pilihan kita. Pro kontra akan selalu ada. Yang harus kita pastikan adalah bahwa pilihan itu terbaik bagi kita, sebaik dan seobyektif mungkin. Novel ini mengajak kita untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.

“Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar. Bahwa hidup harus meahami… pemahaman yang tulus. Tidak perduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyedihkan”

 -halaman 196

Review Buku : Wonderful Life

07.43

WONDERFUL LIFE

Penulis                         : Amalia Prabowo
Tahun Terbit                : April 2015
Penyunting                  : Hariadhi, Pax Benedanto
Ilustrator                     : Aqillurachman A.H. Prabowo
Perancang Sampul       : Fajrin Fathia
Penata Letak               : Fajrin Fathia
Penerbit                       : POP, Gramedia
Tebal Buku                  : 169 halaman
Tahun Terbit                : 2015

“Sen… dok, Qil.”
“Nes.. Dok.”
“Sendok…”
“Nesdok…”
Jalan hidup Amalia Prabowo terasa runtuh ketika tahu Aqil, putra sulungnya, menyandang disleksia. Perempuan dengan pendidikan dan karir cemerlang ini harus berlapang dada putranya divonis tak akan mampu meraih prestasi akademis. Aqil tidak hanya kesulitan dalam melafal kata dan merangkai kalimat, tapi juga membaca, menulis dan berhitung.
Tak mau menyerah pada nasib, Amalia berusaha masuk ke dunia Aqil. Berbekal kesabaran, kemauan untuk mendengar dan memahami, Amalia menemukan dunia yang penuh arna, imajinasi dan kegembiaraan. Dunia yang mengubah secara total kehidupan pribadi dan keluarganya.


“Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat jawa yang bependidikan tinggi dan berkecukupan materi. Ini kisah petualanganku, petualangan hidup jatuh-bangun, petualangan yang indah. Petualangan yang sempurna.”-hlmn. 2
Amalia Prabowo, bungsu dari lima orang bersaudara ini tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi pendidikan. Kehidupannya sangat teratur, ia terbiasa untuk merencanakan semua hal dalam hidupnya. Ia termasuk salah satu siswa berprestasi. Sedari kecil ia menempuh pendidikan di sekolah terbaik, lulus PMDK dan memulai karirnya dari nol hingga berhasil menduduki posisi yang tertinggi. Semua tidak terlepas dari perjuangan dan kerja kerasnya.
Namun ketika ia mendapatkan segalanya, pada saat yang bersamaan ia mulai mendapatkan ‘peringatan’ dari Tuhan. Karirnya yang telah dipuncak mendapat cobaan, ia jatuh dalam pada satu waktu. Rumah tangga yang ia bangun pada usia muda sempat kandas, hingga akhirnya ia memutuskan menikah lagi lalu berpisah dan menjadi single mother. Dari pernikahan itu, lahir dua orang anak laki-laki yaitu Aqil dan Satria. Tidak hanya sampai disitu saja, Amalia harus menerima kenyataan bahwa putra sulungnya, Aqil memiliki ‘keistimewaan’. Aqil mengalami disleksia, ia tidak akan pernah berprestasi di bidang akademik sesuai dengan harapan Amalia. Inilah kehidupan Amalia yang luar biasa.
***

Buku ini memuat kisah Amalia sejak kecil hingga dewasa, dalam seluruh aspek kehidupannya. Mulai pendidikan, pekerjaan, keluarga dan cinta. Buku ini terdiri dari 3  bagian besar yaitu Me, Him dan Us. Tiap halamannya berisikan gambar-gambar ilustrasi, yang ternyata dibuat oleh Aqil, putra sulung Amalia yang sangat berbakat. Melalui tiap bagian itu, Amalia berkisah tentang petualangan hidup yang jatuh bangun. Kehidupan yang tidak hanya akan menginspirasi para ibu yang memiliki anak yang istimewa seperti Aqil, tetapi juga bagi semua orang. Bahwa Tuhan adalah sang pemilik kehidupan, manusia harus lebih bersyukur dengan hidup yang telah diberikan oleh-Nya. Bahwa kehidupan kita harus seimbang dan selaras dengan skenario yang telah dituliskan-Nya.
Ada beberapa bagian dalam buku ini yang membuatku merasa haru hingga tersentuh. Pengalaman yang dialami oleh mbak Amalia sangat luar biasa. Ia juga melewati fase-fase berat dalam hidupnya hingga berada pada titik dimana ia bisa menerima dan mengubah cara pandangnya terhadap segala yang terjadi dalam hidupnya. Dukungan dari orang-orang disekitar yaitu keluarga dan kedua anaknya membuat Amalia semakin kuat.
“Sisi kehidupan yang selama kuabaikan, ternyata mengajariku banyak hak mengenai kehidupan. Melalui kesederhanaan dan keterbatasan mereka ternyata terdapat begitu banyak pelajaran yang bisa ku petik.” – hlmn.123

Melalui buku ini pula, Amalia menunjukkan ilmu parenting dan terapi khusus untuk para penyandang disleksia yang merupakan keadaan yang akan berlangsung seumur hidup. Pembaca diajak untuk lebih aware dan memahami tentang disleksia yang biasanya sering salah ditanggapi oleh masyarakat umum. Disleksia merupakan gangguan dalam membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya serta mempelajari bahasa. Meskipun penyandang bisa saja memiliki intelegensia yang normal atau bahkan diatas rata-rata.
“Dalam keadaan seperti ini, seringkali anak berkebutuhan khusus yang disalahkan dan menjadi fokus terapi padahal yang perlu disembuhkan  pertama kali justru orang tua, lingkungannya.” –hlmn.77


            Wonderful Life telah diadaptasi menjadi film berdasarkan screenplay oleh Jenny Jusuf. Film ini diperankan oleh Atiqah Hasiholan dan Sinyo yang akan tayang di bioskop mulai tanggal 13 Oktober 2016 mendatang.

Review Novel : Then I Hate You So

03.38

Then I Hate You So




Penulis             : Andry Setiawan
Penyunting      : Tia Widiana
Desain Cover  : Dedy Andrianto
Ilustrasi Isi      : Tomoyuki Nokui
Penerbit           : Penerbit Haru
Tahun Terbit    : 2012
Tebal Buku      : 319 Halaman


Suatu malam aku menyadari bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu..
Saat aku menyadari hal itu, kau tiba-tiba menghilang..

            Semuanya berawal dari bencana tsunami yang mengguncang Jepang. Itoyama Luca mengira sudah memiliki segalanya. Kepintaran, karir yang sukses bahkan tampang yang keren. Tapi semuanya seolah tidak berarti setelah bencana itu. Kekacauan di Jepang membuat perasaan yang sempat menghilang muncul kembali. Dan takdir pun menuntunnya menyelesaikan perasaan anehnya itu.
     Han Naran, model cantik yang wajahnya mengiasi papan iklan Korea itu berhasil menyembunyikan isi hatinya selama tujuh tahun. Bencana alam Jepang membuat perasaan itu bangkit kembali dan malah semakin menggebu.
***

            Jika bercerita cita rasa, novel ini seperti novel terjemahan dari Penerbit Haru yang lainnya. Padahal sebenarnya novel ini ditulis oleh penulis Indonesia. Pengalaman beliau tinggal beberapa tahun di Jepang, pengalaman mengalami gempa serta merasakan kekacauan setelah kejadian itu membuat novel ini terasa sangat nyata. Meski alurnya agak lambat di awal-awal bab, tapi akhirnya mulai ‘greget’ setelah ada bab flashback. Ceritanya cukup mudah ditebak, tapi ada twist tidak terduga yang dibuat oleh penulis. Hanya saja aku masih belum sepenuhnya memahami, kenapa Naran bersikap ketakutan pada Luca pada awalnya?
            Novel ini tidak sepenuhnya menggunakan setting Negara Jepang tetapi juga Negara Korea Selatan. Penggambaran deskripsinya kuat, termasuk dengan bahasa yang digunakan, dilengkapi dengan footnote. Penggembaran pekerjaan Naran sudah cukup bagus, tapi pekerjaan Luca sepertinya perlu dieksplor lebih banyak lagi. Dalam penulisan, masih ada beberapa kesalahan penulisan maupun inkonsistensi penggunaan nama tokoh. Nama Luca Itoyama sering dituliskan terbalik. Pada bab terakhir yang sudah menggunakan nama Nana, masih sering dituliskan dengan nama Naran.

            Covernya yang manis serta kisah tentang masa lalu, cinta dan dendam jadi daya tarik utama novel ini. Kisahnya yang sederhana digambarkan dengan apik. Pecinta drama Korea atau Jepang pasti sangat menikmati kisah Luca dan Naran ini. Tiga bintang untuk perkenalan pertamaku dengan karya kak Andry ini. Then I Hate You So merupakan novel pertama yang ditulis oleh Kak Andry. Karya beliau lainnya adalah Ojou! (2013), When The Star Falls (2015) dan Sayap-Sayap Kecil (2015).

Review Kumcer : Ladies' Journey

05.58

LADIES’ JOURNEY
Karena setiap perjalanan menyimpan cerita…

Penulis             : Lala Purwono, Triani Retno, Icha Ayu, Nimas Aksan, Yuska Vonita,
                           Eva Sri Rahayu, Theresia Anik, Lygia Pecanduhujan, Judith Hutapea,
                           Tikah Kumala, Mpok Mercy Sitanggang, Widya Ross, Ririe Rengganis
Editor              : Herlina P. Dewi
Proofreader     : Tikah Kumala
Layout Isi        : DeeJe
Desain Sampul: Teguh Santosa
Penerbit           : Stiletto Book
Tebal Buku      : 168 halaman
Tahun Terbit    : Juni, 2013
Fiksi-Kumpulan Cerita Pendek



Setiap perjalanan menyimpan cerita : kepedihan, kekecewaan, kehangatan, ataupun kebahagiaan. Begitulah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kepastian, mencari cinta, menemukan jati diri atau bahkan untuk kabur dari hiruk-pikuknya hidup.
Beberapa perempuan menempuh jarak dan waktu, demi cinta. Di sudut Jakarta, Lina harus menabung keberanian untuk kembali pulang dengan sekoper kesedihan. Sementara Clara menemukan dirinya kembali di negeri antah-berantah. Perempuan lainnya sibuk membuang masa lalu dan mulai mengoleksi kepingan-kepingan masa depan.
Kisah dalam buku ini akan mengantarkanmu menjelajah waktu dan menelusuri kenangan, karena setiap perjalanan menyimpan cerita.
***

Perjalanan itu petualangan. Kayak ngumpulin kenangan. Lewat perjalanan. Aku mengenali diri dan sekitar –hlmn.86 (Perjalanan Kenangan – Eva Sri Rahayu)

Buku ini bukanlah buku kumpulan cerpen pertama yang kubaca, tapi merupakan buku dengan jumlah kontributor terbanyak. Beberapa diantara kontributor kumpulan cerpen ini adalah seorang penulis yang telah menghasilkan tulisan dalam bentuk novel. Aku juga pernah membaca tulisan mereka. Dalam antologi ini, semua kontributor melebur jadi satu. Bercerita tentang makna perjalanan yang mengubah dunia mereka. Menjadi lebih baik, atau bahkan lebih buruk.
Selain kisah Lana dan Clara yang dimunculkan dalam blurb, ternyata masih banyak kisah yang menginspirasi lainnya. Aku terkesan dengan kisah Keala dan Zelmania. Latar belakang perempuan-perempuan yang menjadi tokoh tiap cerpen beraneka ragam. Karakter mereka digambarkan tangguh tapi rapuh. Setting tempat yang muncul juga bermacam-macam, mulai dari dalam hingga luar negeri. Beberapa cerpen beralur cepat, ada pula yang ending-nya kurang gereget. Penggunaan POV yang dominan POV1 membuat pembaca seolah-olah menjadi tokoh langsung, melakukan perjalanan dan menemukan makna dari perjalanan itu.

“Aku bertemu pelangi, aku bertemu hujan yang merindukan bumi. Aku bertemu timur dan barat. Aku menjumpai banyak sosok yang berperan penting dalam perjalanan hidupku. Dan aku menjumpainya..” –hlmn. 142 (Aku Pasti Kembali – Lygia Pecanduhujan)

Setiap perjalanan selalu memiliki makna. Dalam kumpulan cerpen kisah perjalanan perempuan-perempuan hebat ini, terangkum tentang makna kehidupan secara keseluruhan. Perjalanan membuat mereka lebih mengenali diri sendiri, bertemu dengan orang dan lingkungan baru, membenahi dirinya menjadi lebih baik dan melupakan segala sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hidup.

Haru, lucu, menggebu-gebu. Semuanya solid menjadi satu dan menginspirasi semua pembaca, utamanya para perempuan. Mungkin sebuah perjalanan dapat menjadi pilihan bagimu yang perlu perubahan bermakna dalam hidup. Karena sejatinya, setiap perjalanan pasti punya tujuan dan yang terpenting bukanlah tujuannya tapi proses menuju tujuan itu sehingga kita bisa memaknai perjalanan sebagai proses yang menyenangkan. Jangan lupa bawa serta buku ini sebagai teman dalam setiap perjalanan untuk sebuah perubahan!


Review Novel : The Stardust Catcher

02.22

The Stardust Catcher

Penulis                         : Suarcani
Editor                          : Didiet Prihastuti
Desain Sampul            : Orkha Creative
Tahun Terbit                : 2016
Tebal buku                  : 184 halaman
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Young Adult

“Apa harapanmu tahun ini?”
Joe : Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan.
Mela : Mendapat tambahan umur setidaknya empat tahun lagi, yah.. biar bisa main remi lebih lama lagi sih

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.
Saat itulah Sally Cinnamon mncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja?
Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.
Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orang tuanya?
***

“Yang Joe tidak ketahui, ketika pintu kereta kembali menutup setelah meludahkan tubuhnya, kertas dalam jaket itu lenyap dengan sendirinya” -9
Ada yang berbeda dengan perjalanan Joe hari itu. Bukan karena suasana commuter line yang lengang, tidak seperti biasanya. Tapi karena ia menemukan sebuah kertas di dalam sebuah kantong jaket seseorang yang tertinggal disana. Sebuah kertas berisikan kutipan percakapan seseorang bernama stardustscatcher di ask.fm. Joe membaca setiap percakapan dan menyimpan nama itu di otaknya. Tanpa Joe ketahui, nantinya nama itulah yang mengubah hidupnya. Tapi benarkah kertas itu adalah bagian dari sebuah misi?
“Entahlah, Joe sendiri bahkan tidak tahu apa yang harus dia harapkan. Mama dan Papa batal bercerai? Itu rajukan kosong” -14
Kepergian Joe untuk berlibur ke Bali, sebenarnya hanya untuk mengalihkan pikirannya yang kacau. Rumahnya sepi, hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis sehingga memilih untuk bercerai. Sementara Mela, seorang spa therapist di daerah Ubud yang lucu dan ceria, juga menyimpan masalah yang tak kalah besarnya. Bagaimana cara Sally mempertemukan Joe dan Mela?
***

“Kehidupan memang begini. Beberapa orang memang memiliki jalan yang lurus. Nah, orang-orang terpilih seperti kita akan dihadapkan pada kondisi tertentu yang berbeda. Pada akhirnya ini akan membuat kita lebih kuat daripada yang lain” –halaman 169
Mengejutkan! Membaca novel ini seperti dapat pengalaman menakjubkan di setiap halamannya. Cara pertemuan yang sama sekali tidak romantis bagi pasangan yang ‘berjodoh’. Novel ini diceritakan dengan POV3 yang luwes. Meskipun keberadaan Sally, lebih akrab dengan Joe. Mengutip kalimat di halaman 182 bahwa pertemuan karena insiden itu bisa jadi awal dari pertemuan-pertemuan yang tidak terduga selanjutnya. Seperti itulah yang dialami oleh Joe, Mela dan Sally.
Dengan mengambil setting di daerah Bali, mulai dari Denpasar-Badung-Tabanan-Singaraja-Ubud, membuat pembaca secara tidak langsung mengeksplor Bali lebih banyak lagi. Meskipun tidak melalui tempat-tempat wisatanya. Petualangan Joe terasa sangat nyata bagiku, karena sebagian besar tempatnya kuketahui. Jadi tidak sulit berimajinasi dan merasakan apa yang dialami oleh Joe dan Mela ketika membaca novel ini.
Karakter tokoh dalam novel ini sangat bertolak belakang, tapi bisa dihidupkan oleh penulis. Joe sangat keras kepala, Mela yang lucu dan ceria. Selain itu keberadaan Sally, seorang peri yang sifatnya kekanakan membuat kisah ini semakin berwarna. Selipan unsur fantasi yang diluar nalar juga mendukung cerita ini. Keberadaan Sally membuatku bertanya-tanya mungkinkah Sally yang disebutkan itu adalah Sally yang sama atau kebetulan sama? Oya.. di akhir cerita juga bakal ada bonus yang bikin kamu makin merasa greget! Nggak nyangka aja kalau kisah ini akan menjadi begitu.
Seperti biasa, novel lini Young Adult GPU selalu menyajikan cerita menarik yang beda dari biasanya. Dengan jumlah halaman novel yang cukup tipis ini, tapi tidak mengurangi keseruan dan makna dari cerita yang ingin disampaikan oleh penulis. Novel ini memberikan inspirasi, direkomendasikan bagi kamu yang sering merasa bahwa hidup ini tidak adil! Semoga setelah membaca, merasa tergugah ya. Atau kalau kamu bertanya-tanya apakah kamu juga memiliki seorang peri jodoh? Apakah suatu saat peri jodoh itu akan menampakkan diri jika jodohmu sudah dekat? Kayaknya kamu harus ‘order’ khusus buat titip pesan lewat Sally sama ibu peri Suarcani nih. Hahaha..
Novel ini adalah novel kedua karya Suarcani yang lahir melalui GWP (Gramedia Writing Project). Sebelumnya, beliau juga pernah menjuarai kontes menulis sekaligus menerbitkan novel yang berjudul Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta.

Review Novel : Love in Adelaide

06.56

Love In Adelaide

Penulis                         : Arumi Eko
Editor                          : Donna Widjajanto
Desain Sampul            : Orkha Creative
Desain Isi                    : Nur Wulan
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                : 2015
Tebal Buku                  : 227 Halaman

            Aleska tak punya pilihan selain mengikuti ibunya memulai hidup baru di Adelaide, tinggal serumah bersama dua saudara tiri dengan karakter berbeda. Zach Myers yang overprotective dan Sarah Mayers yang tak pernah bersikap manis.
            Hidup yang sulit di negeri baru terasa lebih ringan sejak Aleska mengenal Neil Wilkins, pemuda Austalia berdarah Inggris-Aborigin. Rekan sekerja yang menyelamatkan dari pemuda-pemuda mabuk ini sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup sebagai keturunan Aborigin. Dari kebersamaan, perlahan tumbuh perasaan yang sulit dicegah. Keduanya tak mampu berpisah walau ada jurang perbedaan besar di antara mereka. Kerumitan  bertambah ketika Sarah secara terang-terngan menggoda Neil dan Zach tak bosan-bosannya mengingatkan Aleska tentang rambu-rambu agama yang tak boleh dilanggar.
            Ketika masa tinggal Aleska di kota itu berakhir dan dia harus pulang ke Bandung, ada tanya yang menggelayuti hatinya : Haruskah ia kembali ke Adelaide untuk memperjuangkan hubungannya dengan Neil? Apa pula misi Zach yang tanpa terduga menyusulnya ke Bandung?
***
            Love in Adelaide merupakan salah satu dari seri Around The World With Love Series Batch 1 yang terbit bersama dengan Love in Marrakech (Irene Dyah), Love in Paris (Nadia Silvarani), Love in Edinburgh (Indah Hanaco). Sesuai dengan seriesnya, novel ini menampilkan kisah cinta yang dialami oleh tokohnya dengan setting berbagai Negara di berbagai penjuru dunia. Tentu saja, tidak hanya kisah cinta tetapi juga berkaitan dengan hal lain yang bernafaskan islami.
            Novel ini mengambil setting di Bandung, kota kelahiran Aleska dan juga Adelaide, yang menjadi tempat tinggal baru baru Aleska setelah ibunya menikah dengan Abraham Mayers. Kota Adelaide dijelaskan dengan sangat baik di novel ini. Riset mengenai setting tempat, tidak hanya tentang tempat wisata, mode transportasi, kebiasaan hidup masyarakat, keberadaan suku Aborigin sebagai penduduk asli Australia, tetapi juga terkait dengan kehidupan masyarakat muslim disana.
            Kehidupan di Adelaide yang sangat beragam, seperti di Indonesia juga memberikan banyak pesan moral bagi kita untuk saling menghargai sesama manusia dan tidak bersikap rasis terhadap agama maupun suku tertentu. Keberadaan Aleska sebagai pendatang, juga dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan masyarakat muslim di luar negeri, khususnya Adelaide. Meskipun banyak memuat hal-hal islami, tetapi secara keseluruhan penulis berhasil menyampaikan nilai-nilai kebaikan yang dapat diterima secara universal, antara hubungan manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya dan juga manusia kepada Tuhan.
            Beberapa part dalam novel, diceritakan hanya dengan paragraf yang hanya dijelaskan tanpa percakapan, sehingga alur cerita menjadi sangat cepat. Ada juga hal mengejutkan yang masih menyimpan misteri, sehingga para pembaca wajib mengikuti kisah cinta Aleska-Neil Wilkins yang rumit, serta kelanjutan kehidupan Zach dan keluarga The Mayer’s lainnya di novel Love in Sydney.

            Love in Sydney sudah terbit bersama dengan tiga novel lainnya yang merupakan bagian dari seri Around The World With Love Series Batch 2, yaitu Love In Auckland (Indah Hanaco), Love in London (Nadia Silvarani) dan Love in Blue City (Irene Dyah). Segera lengkapi koleksimu dan siap-siap jatuh cinta sambil berkeliling dunia!