Review Novel : Coppelia

05.15



Coppelia


Penulis                         : Novellina Apsari
Editor                          : Ruth Pricilia Angelina
Desain Sampul            : Orkha Creative
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                : 2015
Tebal Buku                  : 188 Halaman
            Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.
            Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yag dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu merah untuk ia miliki.
            Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin.. Sedingin kisah boneka Coppelia yang begitu dicintai ibunya.
***
Coppelia. I am the Queen of Mediocre. Running away is my best talent and achievement. Coppelia merupakan salah satu tarian balet terkenal ciptaan Arthur Saint Leon dan pertama kali ditampilkan di Paris 1870. Coppelia bercerita tentang sebuah boneka yang sangat mirip dengan manusia, dibuat oleh Dr. Coppelius hingga membuat seorang pemuda lokal bernama Frans tergila-gila dan meninggalkan tunangannya, Swanhilde. Karena cintanya yang begitu dalam, Dr. Coppelius berambisi membuat Coppelia hidup dengan cara menjerat jiwa Frans.
            Awalnya, aku memang belum mengerti sepenuhnya arti dari paragraf tersebut. Tapi setelah membaca keseluruhan, utamanya mulai pada BAB terakhir aku mulai memahami kenapa tarian balet ini mempengaruhi keseluruhan cerita. Pembahasan mengenai beberapa bidang seni utamanya tentang tari balet.
            Setiap BAB, diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Bergantian antara Nefertiti dan Oliver. Melalui sudut pandang mereka, jalan cerita yang agak rumit dapat terkuak. BAB pertama menunjukkan titik balik seorang Nefertiti melalui pertemuannya dengan Angeliki dan Timotheos. Selanjutnya secara bergantian Nefertiti dan Oliver bercerita dengan alur maju-mundur, tapi tidak membingungkan pembaca.
            Dari segi penokohan, aku suka dengan tokoh-tokohnya. Meski pemilihan namanya, ala-ala barat tetapi sangat unik dan langka. Nefertiti memiliki sisi kelam, pendiam dan malah menemukan kenyamanan dengan mereka yang luar biasa. Oliver yang mencintai Nefertiti dalam diam dan terus berjuang untuknya bahkan ketika gadis itu menghilang. Ibu Nefertiti yang sangat mencintai putrinya. Theos dan Mia yang istimewa tapi sayang hanya memiliki sedikit andil dalam novel ini.
Perpindahan setting tempat cukup cepat. Sesungguhnya interaksi Nefertiti dengan ayahnya dan Brian lebih bisa dieksplor lagi, apalagi Nefertiti dikatakan cukup dekat dengan keduanya. Over all, novel ini bisa jadi salah satu novel favorit bagi pecinta dark story.

Review Novel : Last Journey

02.44

Last Journey


Penulis                         : Kezia Evi Wiadji
Editor                          : Cicilia Prima
Desain Kover              : Jang Shan & Ivana PD
Ilustrator Isi                : Mico Prasetya
Penata Isi                    : Yusuf Pramono
Penerbit                       : Grasindo
Tahun Terbit                : 2015
Tebal Buku                  : 120 Halaman

            Jika sehari terdiri dari 24 jam atau 1.440 menit atau 86.400 detik. Setidaknya, aku telah bernapas di muka bumi ini selama 528 jam atau 31.680 menit atau 1.900.800 detik. Luar biasa bukan?
            Namun, pertanyaan yang muncul di benakku sejak satu bulan yang lalu adalah berapa lama lagi jam biologiku akan berdetak mngikuti detik jam yang ada?
            By the way, namaku Erika Natalia. Aku mahasiswi tingkat akhir Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Aku penderita leukemia kronis. Bisa jadi, Korea Selatan adalah perjalanan terakhirku!
***
            Setelah divonis menderita leukemia kronis satu bulan yang lalu, Erika Natalia seolah kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak mampu memandang segala sesuatu dari sudut padang positif, ia tak mampu lagi berbahagia dengan kehidupannya. Erika merasa muak dengan rasa kasihan yang selalu ditunjukkan oleh keluarganya, sehingga ia memutuskan untuk ikut dalam rombongan tour perjalanan ke Korea Selatan.
            Tanpa disangka, Erika bertemu dengan Theo, salah satu dari anggota rombongan tour menuju Korea Selatan yang cukup ‘mengganggu’. Tidak hanya di ketika berada di bandara, Theo bahkan selalu menguntit Erika hingga sampai di Negara tujuan. Kehadiran Theo justru membuat perubahan besar dalam diri Erika.
***
            Ketika membaca novel ini, aku semakin meyakini bahwa mukjizat itu benar-benar ada. Tuhan selalu menunjukkan kita jalan terbaik melalui rangkaian peristiwa yang tidak pernah bisa kita prediksi sebelumnya. Banyak quotes dan kalimat-kalimat menarik yang membuat kita terinspirasi untuk menjalani hidup lebih positif dengan banyak bersyukur dan selalu berbahagia. Perkenalan Erika dan Theo juga meyakinkan bahwa love at the first sight itu beneran ada hehe..
            Kehidupan Erika digambarkan seolah sudah diujung tanduk, tapi karena perjalanan dan teman perjalanannya membuat ia lupa dengan sakitnya. Hanya beberapa part menunjukkan penyakit yang diderita oleh Erika. Menurutku, porsinya cukup karena Leukemia bukanlah fokus utama pada novel ini.
            Setiap BAB, dibuat berdasarkan tanggal perjalanan yang terjadwal dalam tour. Setiap tempat dan makanan yang dicicipi dijelaskan dengan detail. Novel ini ringan dan dapat dibaca saat bersantai dalam sekali duduk. Cocok banget buat kamu yang butuh piknik, tapi baru kesampaian lewat baca novel aja. Tapi sayangnya, jumlah halaman yang sangat tipis membuat novel ini cepat selesai padahal masih banyak hal yang dapat dikembangkan. Semoga, di lain kesempatan kisah Erika dan Theo bisa dilanjutkan lagi.

            Novel ini merupakan salah satu pemenang pilihan kategori fiksi dewasa pada lomba Publisher Searching for Author #3 yang diadakan oleh Grasindo pada tahun 2015. Tema yang diangkat pada lomba ini adalah naskah bercita rasa Korea Selatan.

Review Novel : NY Over Heels

06.47

NY Over Heels

Penulis                                     : Dy Lunaly
Penerbit                                   : Bentang Belia
Penyunting                              : Starin Sani
Perancang & Ilustrasi Sampul : Ochi Dyati
Ilustrasi Isi                              : Ochi Dyati & Adrianus Adhistama
Pemeriksa Aksara                    : Nunung & Yntan
Penata Aksara                         : Adrianus Adhistama
Tahun Terbit                            : 2013
Tebal Buku                              : 272 halaman

Eyeliner, check! Mascara, check!
Matte dark lipstick, check! Perfect nails, check!
Outfit, check! Accessories, check!
Hari-hariku luar biasa ajaibnya sejak magang di Casablanca! Yap, Casablanca yang itu, ready-to-wear clothing line yang terkenal banget. Helooow, aku ada di New York!!!
Ini bukannya nggak pernah terbayangkan olehku. Tentu saja semua ini sudah ada di rencana wajib terlaksana sejak masuk akademi fashion design. Aku tahu, aku bisa. Tapi, bukan berarti ini mudah, gals. Kerjaan yang meski asyik tapi bener-bener menantang, intrik bekerja dengan teman-teman, tanggung jawab yang besar. Itu semua jadi makanan sehari-hari!
Dan, yang enggak kalah penting, aku bertemu dengan Josh! Oh, tunggu sampai kamu tahu sendiri betapa oke-nya fotografer itu! Oke, oke, aku butuh fokus untuk bisa mengendalikan semua ini. Aku nggak sabar menaklukkan New York.
***
Selepas lulus dari akademi fashion design, Zayyanda Aqila Atmiradja atau Zee tidak mau membuang-buang waktunya. Selain sibuk mengelola fashion blog miliknya, ia juga mengirimkan lamaran internship untuk magang di Casablanca, ready-to-wear clothing line terkenal yang ada di New York dan mungkin sekalian melanjutkan studinya di Parsons The New School for Design.
Petualangannya di Negeri Paman Sam itu dimulai ketika lamaran intership yang dikirim oleh Zee ternyata direspon positif oleh Casablanca. Pekerjaan barunya inilah yang memperkenalkan ia dengan Josh -seorang street fotografer yang dikenalnya ketika sampai di New York-, Debbie, Natasha, Janna, George, Michael yang merupakan rekan kerjanya di Casablanca. Bersama mereka, Zee tidak hanya berkenalan dengan Casablanca tetapi juga berkesempatan menunjukkan bakat briliannya!
***
Novel yang menarik, setiap bab dimulai dengan ilustrasi lucu dan quote tentang fashion dari artis dan orang-orang terkenal. Penulis sangat totalitas dalam melakukan riset mengenai dunia fashion dan fashion blogger yang digeluti oleh Zee. Dengan menggunakan POV1 membuat anything about make up, mix and match penampilan, fashion item yang sedang in juga dibahas sangat mendetail oleh tokohnya yang modis. Tetapi mungkin bagi orang awam yang tidak terlalu mengikuti fashion seperti aku, agak susah untuk membayangkan hal tersebut saat membaca, sehingga tidak terlalu bisa menikmati part yang menjelaskan daily fashion tokoh-tokohnya.
Sosok Zee dan Josh sebagai too good to be true. Pasangan yang serasi, bikin iri dan juga makan hati. Zee memiliki keluarga yang sempurna dengan materi, kasih sayang dan dukungan yang berlimpah. Bakat fashionnya juga sangat brilian. Sedangkan Josh, adalah fotografer handal yang juga berasal dari keluarga yang berada. Interaksi Josh dan Zee juga digambarkan dengan manis banget *makin baper*
Kemunculan tokoh Janna Jackson awalnya membuatku yakin bahwa cerita Zee di Casablanca akan semakin seru, tetapi sayangnya tokoh ini hanya muncul pada beberapa bab dan karakternya kurang kuat. Minimnya interaksi dengan Zee juga membuat konfliknya juga kurang greget.

Bersama Zee dan Debbie, pembaca juga diajak ke spot menarik di New York. Kota yang gemerlap dan seolah tak pernah tidur ini memiliki banyak spot yang menarik seperti strawberry Fields, Central Park, Patung Liberty, Ellis Island, Times Square, Madison Square Garden dan juga Jembatan Brooklyn.

Review Novel : Dangerous Love

23.18

Dangerous Love


Penulis                         : Christina Tirta
Editor                          : Donna Widjajanto
Desain Sampul            : Marcel A.W
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                : 2015
Tebal Buku                  : 296 Halaman


Dunia Catherine luluh lantak saat ibunya menikah lagi dengan ayah Chantal. Chantal adalah gadis manis yang menyenangkan dan dicintai seluruh dunia. Hanya Catherine yang bertekad membencinya sepenuh hati. Bagaimana tidak? Chantal merebut Mami, satu-satunya orang yang ia sayangi. Chantal bagaikan tsunami yang menghancurkan kehidupan Catherine.
Namun membenci Chantal bukanlah masalah terbesar Cath.
Hidupnya makin berantakan seperti keping-keping puzzle yang berserakan sejak Christ, pria misterius yang dikenalnya di kafe tenda Joe berhasil mencuri hatinya. Ia terpaksa menjalani kebohongan yang bagai jerat tak berujung pangkal.
Tertatih-tatih Cath berusaha melepaskan diri. Melewati berbagai rintangan yang membuatnya mengalami dan menyadariarti cinta dan benci.
Mencintai dan dicintai.
Membenci dan dibenci
Sanggupkan Catherine terbebas dari perangkap itu dan menyusun keping-keping puzzle nya hingga utuh?
***

“Membenci Chantal sepertinya sepertinya sesuatu yang tak dapat ku lepaskan. Dan dengan membenci Chantal, aku membenci diriku sendiri. Membenci kebencian yang menggerogotiku.” – halaman 168
            Kehidupan Catherine dan Maminya yang bahagia seolah terenggut ketika Maminya memutuskan untuk kembali menikah dengan gebetan lamanya yaitu Om Frans saat Cath duduk di bangku SMA. Om Frans, adalah seorang duda yang memiliki seorang putri bernama Chantal. Catherine dan Chantal memiliki banyak persamaan. Mereka memiliki inisial nama yang sama,  lahir di tanggal dan bulan yang sama, namun hanya berselisih satu tahun. Banyak yang mengatakan mereka mirip dan cocok untuk bersaudara walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah.
Tapi ada satu hal yang membedakan keduanya yaitu  sikapnya. Catherine adalah wanita yang tertutup, mandiri dan tegas sedangkan Chantal adalah wanita yang manis, lemah lembut dan sangat ramah. Belum lagi, sikap Chantal yang sangat berbakti dan menyayangi Maminya, membuat Cath semakin membencinya. Mami adalah satu-satunya orang yang dimiliki Cath, sehingga ia merasa Chantal telah merebut perhatian dan kasih sayang Mami untuknya. Sementara Om Frans, seolah tidak pernah memberikan kasih sayang seperti yang dilakukan Mami pada Chantal.
Suatu hari, Chantal meminta Catherine berpura-pura menjadi dirinya untuk Blind Date dengan salah seorang anak rekan kerja Om Frans yang akan dijodohkan dengannya. Chantal melakukan itu karena ia sudah memiliki seorang kekasih. Awalnya, Cath menolak ide itu namun ketika ia melihat itu adalah kesempatan untuk merusak citra baik Chantal akhirnya ia setuju. Siapa sangka bahwa anak rekan kerja Om Frans itu adalah Christ? Laki-laki yang membuat Catherine jatuh cinta.
***

Novel Dangerous Love ini menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama yaitu Catherine. Pengenalan kehidupan Catherine dan Chantal banyak diceritakan pada bab satu novel ini. Awalnya, aku berpikir kisah ini akan menceritakan sudut pandang kakak tiri Cinderela versi modern. Tapi ternyata lebih dari itu, alur ceritanya benar-benar mengejutkan dan menakjubkan!
Banyak hal yang ditunjukkan oleh penulis yang menjurus pada konflik yang dihadapi oleh Cath. Tapi penulis berhasil menyimpannya dengan rapi dari awal cerita lalu diungkap satu per satu hingga akhir cerita. Tidak hanya Cath, pembaca diajak untuk menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun memang agak rumit, aku cukup sulit untuk menerka-nerka kemana arah cerita ini. Terpikir sih tentang kejadiaan kecelakaan, tapi memang dikecoh dengan anggapan Catherine bahwa anak perempuan yang menjadi korban itu telah meninggal. Yang tidak kalah mengejutkan adalah penerimaan Christ saat Catherine mengaku. Sikap Clara, adik Christ yang sangat misterius dan pengakuan Marco tentang masa lalunya. Sayangnya, penulis tidak menjelaskan bagaimana sikap Catherine terhadap Om Frans maupun sebaliknya setelah Mami berterus terang pada anaknya.
Novel ini menjadi rekomendasi untuk penyuka realistic novel ataupun Dark Romance. Cerita ini mungkin banyak terjadi dan dialami oleh mereka yang memiliki saudara tiri. Selain itu, konfliknya juga mungkin sering dialami Perasaan benci yang dirasakan oleh Cath, Pembaca mudah hanyut dalam emosi yang dirasakan oleh Cath. Perasaan kebingungan juga banyak dieksplor, tapi memang kebanyakan porsinya pada rasa kebencian. Aku suka bagaimana penulis menyelesaikan konflik dengan cara yang manis.  

Setelah menuntaskan buku ini, akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa Dangerous Love atau cinta yang berbahaya itu adalah cinta yang dilandasi oleh obsesi berlebihan, sikap egois dan juga kebohongan. Cinta yang berbahaya itu adalah cinta Mami pada ayah kandung Catherine, cinta Christ pada Clara dan tentu saja cinta Catherine pada Christ.


Review Novel : Carrying Your Heart

06.03

Carrying Your Heart

Penulis             : Pia Devina
Penerbit           : Diva Press
Editor              : Diara Oso
Tata Sampul    : Ferdika
 Tata Isi           : Atika
Pracetak          : Antini, Dwi, Wardi
Tahun Terbit    : 2014
Tebal Buku      : 248 halaman

            I was your home.. and I wish I will always be your home. Tapi aku tahu, untuk saat ini.. I’m no longer becoming your home..
            Kirana Evalia selama ini hanya hidup bersama ibunya. Dalam hati, terpendam keinginan untuk bertemu dengan sang ayah. Hingga, ia menemukan buku harian tua mendiang ibunya. Di sana, tertulis nama sang ayah dan sebuah alamat di Belanda.
            Kira sempat bertemu sang ayah meskipun dalam suasana yang tak menyenangkan. Di sana juga, ia mengenal Nathan dan membuatnya berpaling dari sang kekasih yang setia menunggu kepulangannya.
            Dalam dilema batin yang Kira rasakan, sang kekasih mendapat beasiswa kuliah di Belanda. Mereka pun bertemu. Namun, Kira sadar, hatinya tak dapat berbohong terlalu lama. Rasa itu…
***
“Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu sedang bersama dengan orang yang tulus menyayangimu, tapi ada suara di dalam hatimu yang berteriak ahwa kamu menginginkan orang lain yang hadir untuk menemanimu?” –halaman 158

            Kirana Evalia, gadis yang hanya hidup bersama sang ibu tanpa mengenal sosok ayah membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keinginan yang kuat untuk menemui sang ayah membuat ia yakin untuk terbang ke Rotterdam, Belanda. Keputusan itu diambilnya karena ia menemukan sebuah alamat dalam buku harian milik ibunya. Kondisinya yang seolah hidup sebatang kara setelah ibunya meninggal membuat keputusan Kira makin bulat untuk meninggalkan Indonesia. Meski ia harus meninggalkan Rendi, kekasihnya yang pernah berjanji membantunya bertemu dengan sang ayah di Rotterdam dan menjalani hubungan long distance relationship.
            Siapa sangka di Rotterdam, Kira bertemu dengan Nathan. Laki-laki yang berasal dari Indonesia yang menjadi seorang fotografer handal di Rotterdam. Kebersamaan Kira dan Nathan yang awalnya dimulai dengan hubungan pertemanan akhirnya menumbuhkan benih-benih yang berujung pada kisah terlarang yang seharusnya tidak pernah ada diantara mereka.
            Pertemuan pertama Kira dengan sang ayah yang dibantu oleh Om Iwan yang menyedihkan membuat Kira tidak yakin apakah ia ingin bertemu lagi dengan ayahnya itu atau tidak. Belum lagi dengan Rendi dan Nathan, dua orang laki-laki yang membuat pikiran Kira semakin rumit.
***
            Carrying Your Heart ini diceritakan melalui POV 1 yaitu tokoh Kira. Dengan alur maju mundur, pembaca diajak untuk mengenali sosok Kira dan latar belakang keluarganya sehingga ia bisa pergi ke Rotterdam untuk mencari ayahnya.  Awalnya memang sempat mengira bahwa usaha menemukan ayah Kira inilah yang akan mendapat porsi lebih banyak, tapi ternyata kisah cinta segitiga yang dialami oleh Nathan-Kira-Rendi di sela kisah pencarian inilah yang menjadi fokus utama.
            Karakter Kira bener-bener membuatku gemas. Bagaimana bisa ketika ia sudah memutuskan untuk pergi ke Rotterdam, tapi masih saja ia belum siap untuk bertemu dengan ayahnya. Selain itu, sikapnya kepada Rendi dan juga pada Nathan yang terkesan tidak tegas berhasil membuatku semakin geregetan. Sedangkan Nathan, benar-benar tidak bisa ditebak. Terlalu banyak misteri yang membuat dia semakin ajaib.
            Setting kota Rotterdam, digambarkan dengan detail mulai dari cuacanya, suasananya  hingga tempat nongkrongnya. Selain itu, beberapa kota di Belanda juga membuat kesan bahwa riset yang dilakukan penulis sangat total. Tiap bab dilengkapi dengan playlist lagu kece. Ada juga beberapa istilah dalam dunia chef yang dikenalkan oleh Kira melalui profesinya sebagai sous chef di sebuah restoran. Menarik sekali!
Tapi aku merasa banyak kehilangan moment,  tidak dijelaskan bagaimana Om Iwan bisa menghubungi Kira. Juga bagaimana hubungan Kira dengan Rendi, apakah LDR mereka renggang hingga Nathan mudah masuk ke celah hati Kira? Identitas Nathan tidak terlalu dieksplor sehingga menjadi tidak terlalu jelas. Kejutan yang dimunculkan oleh Nathan dan Om Iwan di tengah cerita, disimpan dengan baik hingga akhir cerita tapi eksekusinya jadi tidak total dan kurang greget. Aku berharap bagian epilognya dipanjangin lagi dikit hehee..
Tokoh favorit jatuh pada sosok Rendi yang langsung masuk dalam kriteria cowok-idaman-yang-pantas-untuk-diperjuangkan-dan-dipertahankan. Walaupun sosoknya tidak terlalu banyak muncul dalam kisah Kira tapi aku sangat menghargai usahanya untuk menepati janji untuk mempertemukan Kira dengan ayahnya dan juga kesetiaannya. Keputusan Rendi memang sangat disayangkan, tapi aku bisa memahami perasaannya.

***

Review Novel : Not A Perfect Wedding

06.40


Not A Perfect Wedding
[Le Mariage Series]

Penulis                         : Asri Tahir
Editor                          : Afrianty P. Pardede
Penerbit                       : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit                : 2015 (296 Halaman)



Raina Winatama
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.
***

Ada yang mengatakan bahwa menjelang hari-hari sakral dalam hidup kita, maka akan semakin banyak godaan dan marabahaya yang mengintai kita. Aku percaya dengan tradisi “Pingit” bagi kedua mempelai sebelum melangsungkan pernikahan dengan tidak boleh bertemu calon istri/suaminya, keluar rumah bahkan mengurus keperluan pernikahannya. Tujuan pingit ini agar menghindarkan kedua mempelai dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan, hal-hal yang tidak diinginkan itu dialami oleh Prakasa Dwi Rahardi.
Satu hari sebelum pernikahannya, Prakarsa Dwi Rahardi mendapatkan musibah yang harus merenggut nyawanya. Mobil yang dikemudikan Raka dihantam oleh sebuah mini bus. Raka yang malang mendapat trauma yang keras pada kepalanya. Lalu bagaimana dengan Raina, sang mempelai wanita? Karena rasa cintanya pada gadis itu, Raka memberikan kepercayaan kepada Pram untuk menjaga calon istrinya. Pram tak punya pilihan akhirnya menyanggupi dan berjanji akan menjaga Raina dengan menggantikan Raka menjadi mempelai laki-laki pada prosesi akad nikah keesokan harinya. Pram akan menjadi suami Raina, gadis yang belum dikenalnya bahkan belum pernah ditemuinya.
***

Aku suka cara penulis menceritakan kisah cinta karena terbiasa yang dialami oleh Pram dan Raina.  Interaksi keduanya sangat mengalir, emosinya dapet banget. Penggambaran sikap tokoh-tokohnya sangat kuat melalui interaksi mereka. Salut banget sama penulis yang tampak sangat memahami alur pikiran laki-laki dewasa seperti Pram yang kadang bikin klepek-klepek atau gemes setengah mati. Apalagi saat permasalahan mereka berarut-larut, jelas sekali Pram mendominasi dalam pernikahan ini, kadang kasihan juga sama Raina yang berkorban perasaan terus hehe..
Suasana keluarga yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain juga tergambar jelas. Terutama tokoh Pasha dan Raina, interaksi keduanya membuatku semakin ingin memiliki seorang kakak laki-laki yang sama sayang dan protektifnya seperti tokoh Arman, Pasha dan Pram. Tokoh yang kakak-able banget deh.
Dari segi alur cerita, menurutku masih ada yang janggal. Misalnya, penggambaran cerita di awal masih berjalan seperti biasa, seolah keesokan harinya tidak ada hajatan besar dan penting bagi keluarga Rahardi. Kondisi hectic menjelang pernikahan tidak terlalu terlihat. Raka masih menjemput Pram, mama Anne juga menyediakan makanan kesukaan anaknya. Ada juga moment yang tidak jelas –atau aku yang tidak memahaminya ya? – Saat Raina menelpon Maminya Pram, saat Pram ke Bengkulu. Kenapa mami bisa nggak tau dan Raina menyimpulkan seperti itu?
Kadang moment-nya juga belum pas, misalnya saat Raina mengatakan bahwa ia mengalami morning sickness. Raina sangat yakin dengan hal tersebut, tetapi adegan selanjutnya adalah melakukan tes kehamilan dengan test pack untuk memastikan kehamilannya. Beberapa kali aku juga merasakan perpindahan ceritanya terlalu cepat seperti saat Pram memberikan cincin saat makan, tiba-tiba saja Pram sudah membuka pintu lemari di kamar.
Masih banyak juga ditemukan ada kesalahan penulisan, terutama penempatan huruf capital yang ditempatkan tidak semestinya. Oya, covernya akan lebih baik kalau disesuaikan dengan baju pengantin yaitu kebaya berwarna pink yang digunakan oleh Raina. Bukan gaun putih. Selera pribadi sih, tapi terlepas dari itu aku suka kok sama covernya terutama warnanya. Sangat elegan.
***